Chicago dan Wajah Sang Penindas - Mabur.co

Chicago dan Wajah Sang Penindas

Mengikuti perkembangan perang Iran-Israel (AS) saat ini, mungkin kita perlu membaca ulang buku sejarah, atau setidaknya, membaca ulang novel Chicago karya Alaa Al Aswany dengan mata yang lebih curiga.

Kebetulan novel ini dalam edisi Indonesia, ada nama saya sebagai penerjemah dan terbit tahun 2014.

Di sana, di balik gemerlap universitas Illinois dan dinginnya kota Chicago, Aswany —seorang dokter gigi yang lihai bercerita dan membedah “ambisi” manusia— menunjukkan pada kita bahwa Amerika, bangsa yang besar dengan jargon “perdamaian”, “HAM”, “kebebasan”, dan seterusnya, melalui novel ini sesungguhnya berdiri di atas tumpukan tanah pembajakan.

Amerika bukan lahir dari kebetulan, melainkan dari sebuah penindasan.

Benua itu punya tuan rumah: Suku Indian. Lalu datanglah imigran-imigran zionis bersenjata, merampok tanah, merampok harga diri, dan memaksakan narasi baru.

Sejarah, dalam novel ini, terasa seperti naskah yang ditulis oleh pemenang —yang menyembunyikan noda darah di balik bendera bintang-bintang.

Tokoh utama, dengan karakter pengembara Mesir dalam novel itu, merasakannya.

Ia melihat bagaimana Amerika mengajari penduduk asli suku Indian untuk mencintai kebebasan, mencintai perdamaian dan mencintai hak asasi manusia, sembari di kemudian hari mengabaikan bagaimana negara itu “merampok” kemerdekaan bangsa lain di Timur Tengah melalui rezim-rezim sekutunya.

Membaca novel ini, kita disuguhi “adegan” dan peristiwa dengan kemiripan yang presisi, jika kita menarik garis lurus.

Seperti Amerika yang berdiri di atas tanah Indian, Israel berdiri juga di atas Palestina.

Dua bangsa, satu pola: imigran zionis yang datang, menduduki, dan mengubah yang lokal menjadi asing di tanahnya sendiri.

Maka, ketika Aswany mengisahkan Chicago, ia sesungguhnya sedang menyindir kita semua.

Apakah sejarah harus terus ditulis dengan tinta penindasan?

Novel ini mengingatkan, bahwa selama narasi asal-usul yang berdarah itu disangkal, “dunia yang bebas” hanyalah sebuah panggung sandiwara, di mana para perampok berpura-pura menjadi polisi.

Halo, apa kabar BoP, Pak Presiden? ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *