Ketika mendengar ada program gentengisasi dari Presiden Prabowo Subianto yang terbayang dalam benak saya langsung saja genteng yang dicat.
Warnanya terserah. Kalau pun ada gambarnya juga terserah. Bisa saja gambar burung garuda.
Sebagai warga negara biasa imajinasi saya tak bisalah dibendung.
Jangan-jangan mirip dengan genteng di era Presiden Sukarno yang ditulisi Nasakom atau USDEK.
Bisa juga akan jadi genteng di era Orde Baru yang ditulisi kata Inpres.
Kalau itu memang terjadi, gerakan gentengisasi lebih dari sekadar misi ideologis dan buang-buang waktu.
Gerakan gentengisasi di era Presiden Prabowo Subianto bisa jadi gerakan estetik juga. Apalagi kalau yang menggambar di genteng kalangan seniman.
Itulah harapan saya. Artinya gerakan gentengisasi juga menjadi gerakan seni.
Daripada nirpesan sama sekali masih lumayan kalau ada unsur seninya.
Siapa tahu gambar gentengnya juga akan merupakan gambar wayang, gambar tokoh pahlawan, atau apa saja yang menarik.
Bisa jadi akan banyak alternatif. Tidak kaku dan hanya satu kata. Semoga saja.
Rupanya gerakan gentengisasi juga bisa menjadi gerakan membangun basis massa akar rumput.
Syukur jika massa akar rumput itu malah jadi melek seni dan estetika. Bukan hanya melek politik. ***



