Imlek-Puasa Merah Putih

Saudaraku, tahun ini, langit Indonesia seakan memeluk dua cahaya sekaligus: merah lentera yang hangat di beranda rumah, dan bening fajar yang memanggil umat menahan diri.

Imlek dan awal Ramadan nyaris datang bersamaan, beriringan di ambang waktu.

Di antara denting cangkir teh dan gema azan subuh, terucap bisikan yang sama: tentang pulang, membersihkan hati, dan memperbarui harapan.

Imlek hadir dengan merahnya—warna api dan keberanian.

Ia menyala pada lampion, bergetar pada tabuhan barongsai, berpindah dalam angpao berisi doa panjang umur.

Merah adalah semangat memulai kembali, menghangatkan keluarga, merajut masa lalu dan masa depan dalam satu meja kebersamaan.

Puasa Ramadan menyusul dengan putihnya—warna kejernihan dan kesederhanaan.

Putih terhampar dalam saf yang rapi, bening seperti niat sebelum fajar.

Ia mengajarkan menahan diri, menyaring kata, menata keinginan. Dalam lapar dan doa, kita belajar cukup dan kembali menemukan arah pulang.

Keduanya musim berbenah: Imlek merapikan rumah dan batin, puasa menyucikan jiwa dari debu nafsu.

Satu dengan suka cita, satu dengan laku tapa—namun bertemu pada niat yang sama: menjadi lebih baik dari kemarin.

Di meja makan, kue keranjang dipotong dengan doa panjang umur dan kelekatan keluarga.

Di waktu sahur, nasi sederhana disantap dengan niat yang ditinggikan ke langit.

Di ruang-ruang itu, tradisi menjelma kasih; tangan-tangan memberi, entah melalui angpao atau zakat, menyalakan api kepedulian yang sama.

Harmoni dan takwa berpadu dalam keseimbangan.

Merah dan putih pun terasa bukan sekadar suasana, melainkan jati diri bangsa.

Merah keberanian, putih kesucian—warna bendera yang menaungi lampion dan masjid sekaligus.

Keduanya mengajarkan bahwa semangat dan kejernihan harus berjalan berdampingan.

Perpaduan merah Imlek dan putih puasa itu mengingatkan kita: perbedaan bukanlah jarak, melainkan jembatan.

Seperti lentera dan fajar yang berbagi langit yang satu, kita pun dipanggil bukan sekadar hidup berdampingan, melainkan tumbuh bersama menerangi rumah Indonesia. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *