Indonesia Darurat Bercanda

Mabur.co – Dunia komedi di Indonesia terus menuai sorotan akhir-akhir ini.

Setelah beberapa waktu lalu Pandji Pragiwaksono dilaporkan ke polisi akibat berbagai materi stand up-nya yang diduga menghina ormas tertentu dalam pertunjukan Mens Rea, dan mendapat hukuman adat dari suku adat Toraja akibat materi stand up pada 2013 lalu.

Kini ada satu lagi stand up komedian yang menjadi perbincangan publik di jagat media sosial.

Sosok itu adalah Indra Frimawan, seorang stand up komedian jebolan ajang SUCI (Stand Up Comedy Indonesia) Kompas TV pada 2015 lalu.

Di awal Februari ini, ia kedapatan meludahi influencer Fajar Sadboy, dalam acara podcast di kanal YouTube Deddy Corbuzier, yang tayang pada Jumat (6/2/2026) lalu.

Ketika itu Fajar Sadboy hadir sebagai bintang tamu di acara podcast “Logika Frimawan” di kanal YouTube Deddy Corbuzier, yang dipandu oleh Indra Frimawan.

Saat keduanya membahas tentang topik podcast terfavorit, tiba-tiba saja Indra merasa gemas dengan gaya bicara Fajar, yang dianggap sering tidak nyambung saat berbicara maupun menjawab pertanyaan (ditambah dengan gimmick cengeng yang sering diperlihatkan).

Indra pun secara spontan meludahi Fajar dalam keadaan kamera masih ON.

Aksi tersebut lantas menuai kecaman dari netizen di media sosial, dengan menyebut bahwa Indra tidak sopan, tidak beretika, melampaui batas (kelewatan), dan seterusnya.

Fajar sendiri tidak begitu mempermasalahkan aksi Indra tersebut, dengan menyebut bahwa itu hanyalah candaan semata, dan tidak ada maksud lain di balik gimmick tersebut.

Senada dengan Fajar, Deddy Corbuzier selaku pemilik kanal juga menyampaikan bahwa aksi itu hanyalah bagian dari komedi, meskipun mengakui bahwa kejadian tersebut jelas tidak beradab untuk disaksikan oleh publik.

Rela Bercanda di Tengah Situasi Sulit

Apa yang dialami oleh Pandji Pragiwaksono dan Indra Frimawan, sebagai dua orang yang berkecimpung di bidang stand up comedy, sebenarnya merupakan salah satu bentuk rendahnya etika masyarakat Indonesia dalam menyampaikan pendapat.

Apalagi keduanya melakukan aksi yang bisa dikatakan kurang sesuai dengan budaya ketimuran, yang mirip-mirip zaman orde baru.

Hanya saja, dengan hadirnya platform media sosial seperti sekarang, rasanya hampir mustahil jika aksi kedua komika tersebut hanya dikomentari secara negatif.

Akan selalu ada netizen-netizen lainnya yang memiliki POV (point of view) berbeda dari kebanyakan orang.

Ketika masyarakat masih menganut adat istiadat yang kental seperti di Toraja dan lain-lain maka sangat tidak etis rasanya, jika tradisi mereka dijadikan candaan seperti yang dilakukan oleh Pandji Pragiwaksono, yang berujung pada hukuman adat pada awal Februari ini.

Memang tidak ada salahnya, jika menjadikan budaya bangsa sekaligus politik sebagai bahan candaan ataupun materi stand up comedy.

Namun dengan situasi politik dan pemerintahan yang terjadi hari ini, rasanya sulit mengharapkan bahwa candaan semacam itu akan “lolos sensor” begitu saja.

Karena dari dulu sampai sekarang, masyarakat masih terlalu sensitif untuk dibercandain begitu saja.

Terlebih ketika hidup saat ini menjadi semakin sulit, dan masa depan juga semakin tidak menentu.

Kalau sudah seperti ini, rasanya Indonesia memang sedang berada dalam fase “darurat bercanda”.

Para komedian ini rela membercandakan apa saja, hanya demi konten yang viral, mengundang perhatian publik, lalu membuat klarifikasi, seolah-olah dirinya adalah orang yang paling benar dalam urusan membuat konten. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *