Di luar sana, mungkin dunia terkesan tengah menua dengan tergesa-gesa.
Berita perang Iran-Israel, dentum bom yang merobek langit Timur Tengah, dan tumpukan narasi kekerasan (AS) membuat kita letih menatap layar.
Bisa jadi satu bulan lebih, kebisingan itu merampas kedamaian, memaksa kita terus menerus berada dalam mode “siaga”.
Hari ini, Jumat, pada 3 April sampai 26 April 2026 nanti, seolah takdir menyediakan celah sunyi, Jiwa Gallery di Banyutemumpang, Yogyakarta, yang dinahkodai Sitok Srengenge menawarkan jeda.
Pameran bertajuk “Rupa 3 Rupa” bukan sekadar pameran seni, melainkan oase keheningan —sebuah jeda eksistensial di tengah hiruk-pikuk eksistensi yang akhir-akhir ini cenderung liar.
Dua sahabat baik saya, perupa Afnan Malay dan Kaji Habeb, serta Luwi Darto menghadirkan karya lukis terbarunya, sebagai percakapan “halus” antara memori, batiniah dan fakta sosial.
Mereka merawat yang personal agar tidak hilang ditelan kolektivitas yang seragam.
Kaji Habeb: Jalur Kabel Batin
Memasuki karya Kaji Habeb, seorang dalang Wayang Mikael dan aktivis panggung, kita seakan ditarik ke dalam gua kebatinan yang magis ekspresif.
Dalam lukisan seperti Ziarah, Cermin Batu, dan Diserbu Rindu, Habeb sejak tahun 2000 yang saya kenal “istiqamah” menghadirkan bentuk tubuh dan kepala yang terbelit kabel atau benang-benang halus.
Ini adalah metafora yang kuat tentang hablum minallah dan hablum minannas.
Manusia adalah makhluk yang terpenjara sekaligus terhubung.
Kabel-kabel itu —gelombang pemancar kebatinan— adalah jembatan antara yang fana dan yang baka, sebuah upaya religius-ekspresif untuk menemukan titik keseimbangan batiniah di tengah dunia yang tak pernah berhenti bergejolak.
Afnan Malay: Perahu yang Menepi pada Kritik
Sebaliknya, Afnan Malay —yang kita kenal sebagai penyair dan kritikus politik—membawa kita pada lanskap ekspresif-eksistensialisme.
Melalui warna yang lebih cerah dan kontras seperti pada Perahu-Perahu Ditambatkan, Tanah Pesisir, dan Pinokio, Malay tidak sekadar melukis.
Ia sedang melakukan pembacaan kritis terhadap nasib.
Perahu yang ditambatkan adalah perumpamaan manusia yang melepaskan kebebasannya demi keamanan —sebuah momen reflektif atas keterikatan eksistensial.
Pinokio menyindir kejujuran yang langka. Kritis sosialnya halus, ia tidak berteriak, melainkan menyapa lewat metafora visual yang melankolis.
Luwi Darto: Paradoks di Wajah Baby Rich
Sementara itu, Luwi Darto menghadirkan figuratif posmodernisme yang menohok.
Melalui karya Baby Rich, Pecah Telur, dan Raja Kirik, Darto —seorang aktor panggung—menampilkan fragmen-fragmen fakta sosial yang paradoks.
Di sana ada kelucuan yang getir, keindahan yang cacat.
Luwi seolah bertanya melalui kanvasnya: bagaimana mungkin kita hidup dalam gemerlap (rich) namun sekaligus “pecah”?
Karya-karyanya adalah kritik atas kepalsuan diri yang sering kita topengkan dalam panggung sandiwara sosial.
Rupa sebagai Ruang Dialog
Pameran “Rupa 3 Rupa” di Jiwa Gallery ini adalah ruang di mana ekspresi dan impresi saling bersentuhan.
Ia mengajak kita memahami bahwa kebenaran tidak pernah tunggal.
Seperti perjalanan visual dari ketiganya —dari teologi batin Kaji Habeb, kritik eksistensial Afnan Malay, hingga paradoks posmodern Luwi Darto— seni mengajarkan kita untuk menerima keragaman perspektif.
Saat perang masih menyalak di jauh sana, Jiwa Jawi menawarkan pelukan batin.
Bahwa manusia, sejatinya, selalu memiliki ruang untuk merenung, bersunyi-sunyi, dan merayakan kemanusiaannya sendiri.
Terima kasih Jiwa Jawi Gallery. Sayangnya ketika hati, ingin sekali hadir di pembukaan nanti sore, raga ini masih di luar kota.
Selamat buat Kaji Habeb, Afnan Malay dan Luwi Darto.



