Jewish dan Jawa

Dalam Sejarah Dunia di sekolah, selalu dipelajari Sejarah Mesir Kuna, Sejarah Mesopotamia, dan Persia Kuna, India, Cina, Jepang, bahkan peradaban Inka dan Aztec. Tapi tidak pernah ada pelajaran tentang Peradaban Jawa Kuna.

Bukan bermaksud apa-apa, atau hanya ingin romantisme subjektif orang Jawa. Padahal banyaknya temuan arkeologis di Jawa, bahkan peninggalan spektakuler bukti peradaban di Jawa, seperti arsitektur, candi-candi megah, baju, kuliner, kesenian adiluhung, upacara adat, bahasa, menunjukkan tingginya “ilmu” orang Jawa.

Berita beberapa tahun yang lalu, dikembalikannya ribuan naskah Jawa dari negeri Belanda, menunjukkan bukti karya keilmuan yang luar biasa. Sekaligus mematahkan stigma bahwa orang Jawa tidak memiliki tradisi literasi.

Dibandingkan karya Humanisme, Positivisme, Materialisme Barat pasca-abad tengah yang kuantitatif, individual, dan antroposentris, namun juga kering dan kehilangan jiwa, karya-karya Jawa lebih terasa bersifat asketik, ilmu tidak berhenti pada dataran praktis tapi masuk ke dataran nilai.

Kebudayaan Jawa piawai bicara tentang simbol yang diejawantahkan dalam karya-karya fisiknya. Temuan situs “kota” Liyangan, Ngadirejo, Temanggung, memperkuat betapa tingginya ilmu dan peradaban Jawa. Orang Jawa pun sesungguhnya telah memiliki akar pemahaman dan kesadaran akan spiritualitas kehidupan.

Saya tidak tahu persis apakah spiritualitas Jawa sesungguhnya juga agama yang dinubuatkan dan dirisalahkan manusia unggul utusan Tuhan sebelum Islam.

Maka sangat diherankan, ketika orang Arab, India, Cina, Jepang, Thailand, Korea, dan lain-lain, masih bisa membaca huruf aslinya, banyak orang Jawa yang sudah tidak mampu membacanya.

Bahkan banyak orang Jawa yang merasa rendah diri dengan dirinya, merasa tertinggal, merasa lebih bodoh dibandingkan orang lain. Apa yang sesungguhnya terjadi?

Yahudi (Jewish) dan keturunannya terkenal sebagai jenius, kita mengakui, bahkan sekarang pun kita sedang menikmati karya jenius keturunan Yahudi.

Bahkan di dunia ini produk-produk unggul oleh orang Yahudi dilabeli dengan “java”. Teknologi tinggi sebagai hasil karya Positivisme telah memengaruhi hidup manusia kini.

Ekonomi pun diatur dengan sistem dan metoda Jewish yang kapitalistik. Agama bahkan dalam hal tertentu telah dipraktikkan secara positivistik. Seperti identitas formal wadhah lebih menonjol daripada substansi isi.

Tapi ketika persoalan kehidupan mentok pada batas ultimate kehidupan, saya kira kejeniusan ala Jawa akan mampu menjawabnya.

Ada ungkapan “manungsa kang ngetung sabarang kalir nganggo angka iku jalmaning jalma kang winasis. Manungsa kang ngerti ana ngendi anggone jangkah iku titahing jalma kang lantip. Manungsa kang ngerti panjangkaning urip, ngerti sangkan paraning dumadi iku titahing jalma kang waskita“.

Pikiran nakal saya mungkin saja pertemuan Nabi Musa dengan hamba Allah yang dikenal sebagai Nabi Chidir, sesungguhnya adalah simbolisasi pertemuan Jewish dengan Jawa. Chidir tinggal di antara dua arus.

Kebanyakan pusat pemerintahan atau keraton Jawa dibangun di antara dua arus sungai, secara personal orang Jawa bermeditasi atau bertapa di pertemuan dua sungai yang sering disebut “tempuran“.

Sisa-sisa Ilmu Chidir masih bisa kita amati. Hanya orang Jawa yang bisa mengatakan: “Untung ming mobile sing remuk, aku isih diparingi slamet“. Ketika baru saja mengalami kecelakaan yang membuat mobilnya remuk redam dan ia patah kaki.

Ketika Musa masih penasaran tentang wujud Tuhan dan mau meminta bukti fisik-Nya, sehingga ia baru sadar ketika ternyata tidak kuat menatap “wajah” Tuhan di Gunung Sinai, orang Jawa sudah paham bahwa “Kang Murbeng Dumadi iku Tan Kena Kinaya Apa” (Tak bisa dibandingkan dengan seluruh semesta ini sekalipun).

Saya tentu tidak sedang bicara etnisitas semata, tapi nampaknya peradaban masa depan adalah harmoni dari Ilmu Modern yang berangkat dari tradisi Humanisme, Materialisme, Positivisme, yang dimotori orang”Jewish” ketika bereaksi atas kejumudan gereja abad tengah Eropa.

Yang juga melahirkan atheisme dan agnostisme modern. Dipertemukan dipertautkan dengan Ilmu Hikmah, Ilmu Nilai, ilmu tentang “noumenon“, Ilmu Rahsa yang percaya dan mempraktikkan bahwa “Ngelmu iku kalakone kanthi laku“.

Semuanya itu pada dasarnya sesungguhnya menjadi naluri jenius orang Jawa. Orang-orang yang sekarang merasa jadi manusia ndèsit, manusia yang merasa menjadi ras tertinggal. Orang-orang yang beragama tapi terus-menerus masih mencari identitas fisik dan formalitas.

Di antaranya bahkan menjadi manusia yang mudah marah dan stres karena kompleks terdesak seperti itu. Bahkan merasa benar, merasa paling benar, merasa pasti benar, dan yang lain pasti salah.

Mari kita benahi peradaban masa depan manusia dengan mempertemukan kejeniusan Jewish yang menggelegak dengan penguasaan teknologi dan ilmu wadhag dengan kejeniusan Jawa yang asketik dan meneb.

Kita pernah “heboh” dan “viral” dengan tinggalan pusaka budaya dan sejarah, khususnya di Jawa yang kemudian dikait-kaitkan dengan para nabi besar dan ajaran yang dibawanya. Seperti yang menyangkut candi spektakuler Borobudur dan kerajaan besar Majapahit.

Tapi coba simak tataran keilmuan atau “the hirarchy epistemic of javanese tradition“. Ini diadopsi dan disistematisasi dari gagasan Ki Ageng Suryo Mentaram (1892-1962). Seorang pangeran dari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, putra ke-55 dari Sultan Hamengku Buwono VII.

Beliau juga menyerap sari pati hidup Jawa yang turun temurun. Menurut beliau “Laku Ngelmu” itu dimulai dari tataran asor Panca nDriya yang hanya bisa menangkap wadhag kasat mata. Diteruskan dengan naluri Sato Kewan yang memahami bungah dan susah untuk naluri hidup jasmani.

Tataran selanjutnya adalah “Watek Kramadangsa” yang memahami proses empirik kejadian dan fakta Nanding Salira. Kawruh kedadean kang bisa dinalar dunung lan larahe. Tataran lebih tinggi adalah “Watek Kamanungsan” mangerteni kawruh kang bisa mangerteni jejering liyan lan sesrawungan. Menjadi Tepa Salira.

Tataran laku selanjutnya adalah “Watek Kamanungsan Luhur kang bisa mangerteni jangkaning urip ana ing ngalam ndonya kang ora langgeng. Manungsa kang bisa Mulat salira hangrasa wani.

Tataran paling duwur laku kang bisa tekan Kamanungsan Jati tumekaning kawruh babagan Sangkan Paraning Dumadi kang tuwuh dadi Manungsa Tanpa Ciri.

Menurut Ki Ageng Suryo Mentaram itulah makna ngelmu kalakone kanthi laku. Jawa dan Nusantara sesungguhnya adalah contoh masyarakat yang memiliki peradaban sangat tinggi.

Kalau kita sadar bisa menjadi penyeimbang bangsa Yahudi (Jewish) yang cerdas dalam ilmu wadhag, Jawa (Java) masyarakat yang tinggal di antara “dua arus besar” yang cerdas dalam ilmu batin dan mampu memberi makna wadhag yang fana.

Epistemologi Alquran mengajarkan sihir Firaun dikalahkan rasionalitas Musa, namun rasionalitas Musa harus dikembangkan dengan ilmu hikmah Chidir.

Jadi kalau mau dikait-kaitkan dengan para nabi, seyogyanya jangan Nabi Sulaiman, Nabi Musa, atau nabi-nabi yang lain. Sebab jarak geografis dan watak karakter masyarakatnya sangat jauh. Nah kalau masih ingin mengkaitkan dengan nabi, merujuk “tataran epistemik” di atas.

Yang cocok untuk tipologi masyarakat Jawa, Nabi Chidir. Di mana dalam Alquran, Nabi Musa (Bani Israel atau keturunan Yahudi) saja diperintahkan oleh Allah untuk sinau ngelmu kanthi laku dengan hamba-Nya yang berada di “Jawa”. Tentu ini penafsiran simbolik, bukan semata wantah. Kesemuanya harus dibaca serta dimaknai sebagai bahasa metaforik.

Sehingga tataran epistemik manusia tidak hanya wasis (clever) tapi juga lantip (smart) bahkan waskita (intuitive). Hanya manusia Jawa yang paham itu secara alamiah.

Peradaban manusia masa depan adalah mengharmonikan teknologi wadhag yang dikembangkan oleh keturunan Jewish dengan ngelmu kearifan hidup yang dimiliki keturunan Jawa.

Agama apapun harus dikembalikan sebagai “religare” ajaran yang bisa membangun dimensi spiritualitas manusia yang dalam bahasa Alquran adalah menjadi Mutaqqin.

Bukan berkutat pada rebutan klaim kebenaran dan formalisme. Apalagi malah menebar teror atas nama agama. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *