Kematian Dosa

Saudaraku, dosa adalah kata yang sering diucapkan dengan berbagai cara dan makna. Namun, ada satu pengertian yang menyentuh kedalaman nurani.

Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Dosa adalah sesuatu yang menggelisahkan hatimu dan engkau tidak suka jika diketahui oleh orang lain.”

Dalam pengertian itu, dosa melampaui sekadar pelanggaran aturan sebagai imperatif dari luar diri. Yang lebih ditekankan adalah getaran hati dan rasa malu yang tumbuh dari sensitivitas etis di kedalaman diri.

Di sini, dua wajah dosa menyapa kesadaran manusia: rasa bersalah yang bersinar dari lentera moral di dalam diri, dan rasa malu yang terusik tatapan orang lain.

Masalahnya, getaran rasa berdosa itu bisa memudar. Pelan tapi pasti, rasa bersalah dan rasa malu bisa pingsan di bawah bius kekuasaan dan ketamakan.

Kekuasaan, seperti candu adiktif, yang meresap dalam jiwa dan mengubah watak manusia secara ajaib.

Dalam kompleksitas dunia modern dengan pragmatisme berlebih dan kontrol (etika) sosial lembek, sifat tak tahu malu justru dapat insentif.

Mereka yang tak terhalang rasa malu bebas melakukan hal-hal yang tak berani dilakukan orang lain, yang dengan itu bisa cepat melesat di tangga kekuasaan dan kekayaan.

Dalam situasi demikian, yang berjaya dan bertahan bukan lagi yang paling bijak atau paling empati, melainkan yang paling tebal muka: the survival of the shameless.

Situasi zaman ini seperti memenuhi bayangan gelap bait-bait puisi Serat Kalatidha (Puisi Zaman Keraguan), karya pujangga agung Keraton Surakarta, R Ng Ranggawarsita.

“Menghadapi zaman edan, sulit menggunakan budi pekerti, ikut edan aku tak sanggup, jika tidak ikut edan tidak akan kebagian, mungkin akan jatuh miskin pada akhirnya. Namun, karena kehendak Allah, seberuntung-beruntungnya orang yang lupa, masih beruntung orang yang ingat dan waspada.”

Serugi-rugi manusia adalah manusia yang mati rasa dalam hidup. Rasa bersalah pertanda hati masih hidup: gemetar saat melukai dan perih saat mengkhianati.

Rasa malu menjadi penjaga yang menuntun manusia berjalan dalam batas-batas kemuliaan. Tatkala hati tak lagi terusik oleh salah, dan wajah tak lagi memerah karena dosa, kemanusiaan pun sirna. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *