Korupsi Nadiem, Lebih Baik Jadi Orang Biasa Daripada Pejabat Penuh Dusta

Mungkin kita sudah muak dan jengah dengan berbagai berita mengenai tertangkapnya pejabat atau petinggi negara, akibat kasus korupsi maupun kasus-kasus lainnya yang disinyalir merugikan negara dalam berbagai bentuk dan cara.

Terbaru ada Bupati Pati, Sudewo, dan juga mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) era Kabinet Indonesia Maju (2019-2024), Nadiem Makarim, yang saat ini dalam proses pemeriksaan oleh KPK maupun Kejaksaan Agung.

Keduanya tersandung kasus dugaan korupsi dengan total kerugian negara mencapai triliunan rupiah.

Padahal, kedudukan sebagai pejabat adalah sesuatu yang sangat mulia, dan dianggap tinggi derajatnya, bahkan oleh negara. Setiap pejabat sudah pasti mendapatkan berbagai fasilitas mewah dari negara, yang jumlahnya juga tak bisa dianggap main-main.

Namun, semakin tinggi derajat seorang pejabat, semakin tinggi pula godaannya untuk berbuat “jahat”. Ya, dengan segudang fasilitas yang dimiliki, ada saja terbersit “bisikan-bisikan setan” yang menjerumuskan para pejabat ini untuk tidak segan-segan mencuri berbagai fasilitas tersebut, bahkan yang sebenarnya bukanlah hak mereka. Karena ternyata, fasilitas-fasilitas itu jumlahnya masih kurang banyak.

Wajarlah namanya juga manusia, mau itu pejabat atau bukan. Segalanya selalu tampak kurang dan tidak pernah sempurna, bahkan yang fasilitasnya sudah lengkap dan mewah sekalipun.

Lebih Baik Bertahan di Zona Nyaman

Nadiem Makarim adalah contoh yang sangat tepat, untuk menggambarkan bagaimana menjadi “orang biasa” justru lebih baik dan lebih mulia, daripada sok-sokan “mengabdi untuk negara” tapi ujung-ujungnya malah terancam masuk penjara.

Bisa dibilang, Nadiem Makarim adalah sosok yang begitu berjasa di negeri ini. Ia berperan besar mendirikan start up Gojek pada 2010 lalu. Gojek adalah sebuah aplikasi ojek online (ojol) yang berjasa mengantar jutaan orang dari satu tempat ke tempat lainnya setiap harinya.

Di bawah kepemimpinannya, Gojek terus berkembang dan memiliki berbagai unit usaha baru, sehingga tidak hanya berfungsi sebagai ojol saja.

Namun, keputusannya menerima “lingkaran setan” sebagai pejabat di era Kabinet Indonesia Maju sebagai Mendikbudristek pada 2019 lalu betul-betul mengejutkan.

Seketika ia langsung mundur dari posisinya sebagai CEO di Gojek, dan fokus sepenuhnya sebagai Menteri untuk “mengabdi kepada negara”. Padahal pendapatannya sebagai CEO Gojek jauh melebihi gajinya sebagai menteri.

Menurut laporan dari Tribunnews, ia bahkan pernah disebut sebagai salah satu dari 150 orang terkaya se-Indonesia versi majalah Globe Asia pada pertengahan 2018 lalu.

Ketika menjabat CEO Gojek, Nadiem mendapatkan penghasilan sebesar Rp1,41 triliun (kalkulasi US dollar tahun 2019), sementara gaji sebagai Mendikbudristek sebesar Rp18,64 juta per bulan.

Ketika Nadiem menjadi salah satu orang paling berpengaruh sekaligus paling kaya di negeri ini, tentunya akan lebih mudah baginya untuk bertahan di “zona nyaman” tersebut.

Namanya akan tetap selalu harum bahkan wangi jika tetap stay di tempat yang sama. Mungkin saja Gojek akan semakin Go-Internasional, andaikan Nadiem Makarim masih ada di sana sampai sekarang.

Tentu saja keputusannya untuk masuk ke “lingkaran setan” itu bukan untuk terciduk kasus korupsi pengadaan chromebook, kan?

Niatnya sih pengin jadi sosok yang berjasa mengubah wajah pendidikan di Indonesia, tapi nyatanya sosok Nadiem masih terlalu cupu untuk bisa menjadi “pahlawan di siang bolong” yang sanggup mengubah dinamika pendidikan Indonesia yang sudah kian carut marut dan tertinggal sangat jauh dari negara-negara maju di dunia.

Bukannya mengubah wajah pendidikan secara nasional, ia malah merusaknya secara perlahan-lahan, bahkan dirinya sendiri juga terjerat kasus setelah berada di sana. Sungguh mengenaskan.

Senada dengan statement yang pernah diungkapkan oleh Mahfud MD pada 2012 lalu, saking tingginya persentase pejabat yang terkena kasus korupsi, ia menyebut bahwa “malaikat jika masuk pemerintahan pun bisa berubah jadi iblis”.

Kalau sudah begini, sepertinya lebih enak (dan lebih aman) jadi “orang biasa”, daripada jadi pejabat tapi penuh dengan dusta, lalu bertransformasi jadi “iblis” sekaligus musuh negara. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *