Mengenal Filosofi Pisang Goreng yang Disebut dalam Serat Centhini - Mabur.co

Mengenal Filosofi Pisang Goreng yang Disebut dalam Serat Centhini

Mabur.co – Siapa tak kenal pisang goreng. Camilan tradisional sederhana ini, hampir mustahil belum pernah dicicipi masyarakat Nusantara, yang per tahun 2026 ini berjumlah lebih dari 280 juta jiwa. 

Saya yakin, hampir semua dari 280 juta mulut manusia Nusantara itu, paling tidak pernah sekali, mengunyah pisang goreng. Soal apakah setiap mulut itu menikmatinya atau tidak, itu soal lain. 

Sesuai namanya yang sederhana, pisang goreng merupakan salah satu kuliner yang juga dibuat dengan cara sederhana. Buah pisang matang, dikupas, lalu digoreng. Selesai. 

Cara menikmatinya pun juga sangat sederhana. Begitu digoreng dan matang, langsung bisa dimakan. Simpel. Tanpa butuh hal lain yang membuat pisang goreng itu menjadi bukan lagi pisang goreng. 

Di Jawa, sejarah mencatat pisang goreng, sudah ada sejak abad ke-17. Pisang goreng bahkan disebut dalam Serat Centhini yang dibuat di masa pemerintahan Pakubuwana V. 

Sangat mungkin jauh sebelum itu, masyarakat Jawa sudah menemukan dan membuat pisang goreng sebagian camilan sehari-hari. Namun yang pasti, pisang goreng baru dibuat begitu minyak goreng ditemukan. Logis, kan?

Sebagai tanaman endemik di wilayah tropis, pisang memang sudah menjadi tanaman yang lumrah tumbuh di sekitar halaman rumah masyarakat Jawa. Apalagi di abad ke-17 silam. 

Tak heran, dari dulu hingga sekarang, pisang goreng selalu memiliki tempat khusus di wajan-wajan penggorengan orang Jawa. Mulai dari wajan kinclong seorang raja atau presiden di sebuah acara perjamuan, hingga wajan gosong kuli bangunan yang sedang kelaparan.

Jika kopi bisa punya filosofi pun demikian dengan pisang goreng. Kenapa tidak? Bagi saya, pisang goreng adalah tentang kesederhanaan. Sesederhana menemukan bahan bakunya, membuatnya, hingga cara menikmatinya.

Namun sesederhana apa pun itu, tetap dibutuhkan usaha untuk melakukannya. Meski usaha itu boleh jadi juga sederhana. Inilah yang disebut dengan proses, atau kalau orang Jawa menyebutnya laku

Bagi orang Jawa, segala sesuatu hanya bisa dicapai dengan laku. Bahkan proses atau laku, kadang jauh lebih penting dibanding tujuan dari laku itu sendiri.

Intinya, pisang goreng mengajarkan kita, pentingnya sebuah proses. Karena tanpa proses, segala sesuatu, sesederhana apa pun itu, tak akan pernah bisa dicapai.

Sebagaimana pisang goreng yang selalu dirindukan di momen-momen tertentu, kesederhanaan pada dasarnya juga selalu dirindukan semua orang. Kesederhanaan bahkan kadang dibutuhkan untuk bisa menemukan atau mencapai sesuatu, misalnya saja kebahagiaan. 

Bagi orang Jawa, kesederhanaan merupakan sebuah jalan hidup. Bagi orang Jawa, kesederhanaan merupakan sebuah cara untuk menemukan kebahagiaan. Mungkin seperti bagaimana menikmati sepotong pisang goreng hangat, sembari duduk santai menunggui hujan yang belum selesai.

Sepintas terdengar sederhana, namun bukan berarti mudah untuk dilakukan. Seperti kata legenda sepak bola Belanda, Johan Cruyff, “Bermain sepak bola itu sangat sederhana. Namun memainkan sepak bola yang sederhana, adalah hal yang sangat sulit dilakukan.”

Bagaimana? Anda sudah menyantap pisang goreng hari ini? ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *