Mabur.co – Patung macan putih di Kediri mendadak ramai. Bukan karena keindahan bentuk atau ketepatan anatominya, melainkan karena sebaliknya. Banyak orang menilai patung itu jauh dari gambaran seekor macan. Namun justru karena “kejelekannya” itulah, orang berbondong-bondong datang. Patung itu ramai dikunjungi dan menjadi tujuan wisata dadakan, ditonton, dibicarakan, dan diviralkan.
Fenomena ini mengingatkan pada perumpamaan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) tentang roti dan tai. Roti adalah sesuatu yang layak dikonsumsi akal dan nurani: kebaikan, keindahan, dan kebenaran. Tai adalah kebalikannya, sesuatu yang semestinya ditolak, karena jika dipaksakan masuk ke tubuh, akan merusak. Tai melambangkan keburukan, kebohongan, keserakahan, kezaliman, dan segala tindakan yang bertentangan dengan nurani.
Masalahnya, banyak manusia saat ini kehilangan kemampuan membedakan roti dan tai. Atau lebih buruknya lagi, ketika manusia tahu itu tai, tetapi tetap memakannya, baik itu secara sadar atau karena keterpaksaan akibat tak ada lagi roti yang benar-benar roti.
Bagaimana tidak, di negara kita tercinta Indonesia ini, tai sering diberi nama roti. Kebohongan dibungkus dengan istilah strategi. Penindasan disebut kebijakan. Keserakahan dilabeli keberhasilan. Sementara itu, roti justru dibuang karena dianggap tidak menguntungkan, tidak populer, atau terlalu jujur untuk bertahan di tengah persaingan.
Ada pula situasi yang lebih kejam: ketika tai dicampur dengan sedikit roti, lalu disajikan kepada banyak orang. Mereka dipaksa menerimanya sebagai makanan sehari-hari. Jika menolak, mereka dianggap tidak tahu diri, tidak realistis, atau tidak mau maju. Dalam kondisi seperti ini, masyarakat bukan hanya kehilangan pilihan, tetapi juga perlahan kehilangan kepekaan nuraninya untuk membedakan tai dan roti.
Ini bukan hanya soal patung macan putih yang viral di Kediri. Tapi juga tentang banyak hal. Logika yang sama juga bisa dipakai untuk menjelaskan, kenapa Komika Panji Pragiwaksono kerap menyampaikan kegelisahannya soal Gibran sebagai wakil presiden, bukan semata soal suka atau tidak suka, melainkan tentang kelayakan, proses, dan standar. Panji menyoroti bagaimana sesuatu yang secara prosedural dan kapasitas dipertanyakan, bisa tetap diterima karena didorong kekuasaan, popularitas, dan pembenaran massal.
Lewat analogi roti dan tai, Cak Nun tidak sedang mengajarkan teori moral yang rumit. Ia hanya mengingatkan sesuatu yang sangat dasar: manusia dianugerahi akal dan hati untuk mengenali mana yang layak dimakan dan mana yang harus dibuang. Jika seseorang memakan tai, itu bukan karena tai tersebut berubah menjadi roti, melainkan karena manusia itu memilih untuk mengingkari akal sehatnya sendiri.
Filosofi roti dan tai adalah ajakan untuk kembali jujur. Jujur pada diri sendiri, jujur pada nilai, dan jujur dalam menyebut sesuatu sebagaimana adanya. Jika itu roti, katakan roti. Jika itu tai, jangan dipaksa menjadi roti hanya karena kita lapar atau takut kelaparan.
Bagi Cak Nun, kemerdekaan manusia bukan diukur dari seberapa banyak yang ia miliki, tetapi dari keberaniannya menolak tai meskipun semua orang di sekitarnya menyebutnya roti. Sebab pada akhirnya, yang menentukan sehat atau rusaknya hidup seseorang bukan apa yang ia miliki, melainkan apa yang ia masukkan ke dalam dirinya, ke dalam pikirannya, hatinya, dan nuraninya.



