Perang hari ke-20 membawa kabar duka mendalam lagi dari Teheran, Ismail Khatib, sang penjaga rahasia negara, gugur menyusul seniornya Ali Larijani.
Mungkin di hati kita sering terbesit ada yang mengganjal dari sebuah ironi ganjil yang getir dalam kematian para pemimpin ini.
Kita bertanya-tanya: mengapa mereka tetap berada di ruang terbuka? Mengapa beton-beton bungker yang kokoh tidak dijadikan tempat persembunyian?
Apa mungkin, bagi mereka, memimpin perang di tengah risiko kematian rakyatnya adalah soal keberadaan —sebuah manifesto bahwa kehadiran fisik adalah bentuk terakhir dari kedaulatan.
Di sisi lain, kita juga patut bertanya, untuk apa bungker dibuat dengan lapis beton dan teknologi mutakhir, kalau keberadaannya tidak dipakai untuk tindakan keselamatan?
Ya, seringkali muncul pertanyaan seperti itu, agar tempat singgah yang terbuka tidak seperti peti mati, di mana batas kehidupan dan kematian digantikan oleh lensa drone dengan koordinat GPS.
Sementara itu, di Tel Aviv, bayang-bayang Netanyahu memudar dalam misteri.
Apakah ia telah “selesai” atau sedang bertarung dengan luka?
Kantor berita Iran, Tasnim News Agency, mengklaim Netanyahu kemungkinan tewas atau terluka parah akibat serangan balasan terbaru.
Tetapi, mereka benar-benar tidak pernah terburu-buru memberi jawaban.
Namun, penunjukan Yariv Levin sebagai Perdana Menteri sementara adalah sebuah “tanda” yang lebih keras dari ledakan mana pun.
Struktur kekuasaan sedang bergeser, ketika nakhoda lama menghilang dari anjungan, kapal harus terus berlayar meski di tengah badai legislatif dan keamanan yang karut-marut.
Levin adalah sekutu setia dan wakil Netanyahu, ia dikenal memiliki ideologi zionis yang sangat konservatif.
Dalam situasi perang saat ini, ia kemungkinan besar akan meneruskan kebijakan serangan udara intensif terhadap target-target strategis.
Ia juga tokoh utama di balik upaya reformasi peradilan Israel yang kontroversial, yang bertujuan memberikan kekuasaan lebih besar kepada pemerintah atas sistem hukum.
Terkadang perang ini serupa teater dan bayang-bayangnya.
Di satu sisi ada syahid yang dirayakan dengan air mata, di sisi lain ada transisi yang dilakukan dengan bisikan.
Perang ini bukan sekadar soal siapa yang memiliki drone lebih canggih, tapi tentang siapa yang mampu bertahan ketika narasi kepemimpinan lama mulai runtuh dan digantikan oleh wajah-wajah baru yang asing. Wallahu’alam. ***



