21 hari sudah bumi Zarathustra dan Mullah ini masih membara dan belum ada tanda-tanda mereda.
Di tengah hamparan puing dan jutaan doa yang melangit, estafet perjuangan berpindah tangan; Jenderal Hussein Deghan kini berdiri tegap di pucuk Dewan Keamanan Nasional, menggantikan almarhum Prof. Dr. Ali Larijani yang telah menjemput kesyahidannya.
Kematian, bagi pemimpin mereka, bukanlah titik henti, melainkan embusan napas yang makin menyalakan api perlawanan baru.
Kursi-kursi yang ditinggalkan para syuhadanya, tak dibiarkan terlalu lama dingin; mereka segera mengisinya dengan jiwa baru yang juga sarat pengalaman, menegaskan bahwa perlawanan terhadap keangkuhan Israel, Amerika dan sekutunya adalah napas yang akan terus dihela hingga garis finis takdir.
Pasca-Deghan dilantik, kemarin sore, luka di Teheran itu menganga kembali.
Israel dan AS menjamah South Pars Gas, jantung energi yang mengaliri nadi kehidupan Iran. Namun, mereka lupa bahwa macan yang terluka tak akan pernah mundur ke liang persembunyian.
Malamnya, cakrawala Teluk lebh membara. Sebagai balasan yang setimpal, rudal-rudal Iran membelah pekatnya malam, menghantam kompleks minyak dan gas di Qatar, Bahrain, UAE, hingga Arab Saudi —titik-titik di mana bisnis dan kepentingan AS berkelindan erat di sana. Ini yang banyak orang khawatirkan.
Yariv Levin, pengganti Netanyahu, Perdana Menteri Isreal sementara itu, pasca-dilantik, langsung tancap gas dengan ambisi butanya.
Ia mencoba menyulut api yang lebih besar untuk menyeret seluruh jazirah ke dalam kawah candradimuka.
Bahkan Trump pun meradang, menyadari bahwa serangan ke sektor energi adalah tusukan langsung ke jantung ekonomi dunia. Namun, Israel tetap melaju dalam kegelapan nuraninya.
Kini, perang telah naik kelas menjadi ‘perang energi’ yang total.
Peringatan Iran agar pangkalan minyak mereka jangan disentuh, dianggap angin lalu.
Sekarang, seluruh sektor energi di Teluk terbakar hebat, menjadi tumbal dari keangkuhan yang tak terukur.
Secara de facto, negara-negara tetangga yang masih memberi ruang bagi kaki tangan AS untuk menggempur Iran, kini mendapati diri mereka berada dalam bidikan hukum internasional yang sah, tetapi pertanyaannya, apakah dunia masih adil melihat ini?
Saat ini amat banyak berita propaganda, bahwa Iran telah melanggar kedaulatan negara tetangga teluknya, menyerang kilang minyaknya dan seterusnya padahal yang terjadi, itu dilakukan hanya sebagai pembalasan setimpal bagi
South Pars Gas yang telah mereka lakukan, dan kilang minyak di kawasan negera Teluk itu telah lama berbisnis, bahkan dikuasai Amerika.
Propoganda lain, dinarasikan bahwa kekuatan Iran melemah atau amunisinya menipis. Di lapangan, rudal balistik dan hipersonik masih rajin menuliskan pesan-pesan kematian di langit Israel dan sejumlah pangkalan militer Amerika.
Di Irak, milisi pro-Iran terus merongrong benteng-benteng AS, membuat Gedung Putih gemetar saat warga dan serdadunya terperangkap dalam kepungan maut yang sulit dievakuasi.
Sungguh ironis, para pemimpin Arab meradang melihat fasilitas mereka hancur, namun mata mereka tak melihat terhadap siapa yang pertama kali menyulut sumbu ledaknya?
Mengawali dan menyerang kawasan vitalnya? Mereka sangat marah dan mengecam pada Iran, padahal luka itu bermula dari tangan-tangan Israel dan AS yang merusak South Pars.
Di atas segalanya, dari balik tubuh Mojtaba Khamenei yang dikabarkan terluka, ia terus menitipkan pesan yang jernih kepada dunia: bahwa setiap serangan akan dibayar dengan serangan yang lebih pedih. Prinsipnya tetap teguh nyawa dibayar nyawa.
Di saat harga gas dan minyak dunia melonjak dan mengguncang pasar global, Iran berdiri di atas keyakinan bahwa harga sebuah kedaulatan jauh lebih mahal daripada tetes minyak manapun.
Setiap syahid yang jatuh ke bumi, adalah janji bahwa musuh harus membayar harganya dengan air mata dan api. ***



