Mabur.co – Hingga saat ini suku Jawa masih menjadi salah satu kelompok etnis terbesar di Indonesia.
Berdasarkan data Sensus Penduduk yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010 silam, jumlah suku Jawa mencakup sekitar 40-41 persen dari total populasi penduduk Indonesia.
Jika jumlah penduduk Indonesia pada Sensus Penduduk pertengahan tahun 2025 lalu mencapai 284 juta jiwa, maka diperkirakan saat ini jumlah penduduk suku Jawa mencapai sekitar 113 Juta Jiwa.
Namun ternyata tidak semua suku Jawa yang ada di Indonesia ini, masih setia menggunakan bahasa ibunya yakni bahasa Jawa sebagai sarana atau alat komunikasi sehari-hari.
Guru Besar Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM, Prof. Dr. Hendrokumoro, M. Hum, pada 2025 lalu menyebut jumlah penutur bahasa Jawa diperkirakan mencapai sekitar 80 juta jiwa.
Mayoritas penutur Bahasa Jawa itu tersebar di Pulau Jawa dengan konsentrasi di 3 wilayah provinsi yakni Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur. Meski, sebagian suku Jawa juga banyak tersebar di berbagai daerah lain di Indonesia.
Melihat data tersebut, dapat diartikan saat ini diperkirakan ada puluhan juta orang Jawa yang sudah tidak menggunakan bahasa ibunya sendiri yakni bahasa Jawa.
Lalu apa sebenarnya yang membuat banyak suku Jawa sudah tidak menggunakan bahasa ibunya sendiri?
Sebelum menjawab pertanyaan itu ada baiknya mengetahui pengertian apa itu bahasa ibu.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi V bahasa ibu didefinisikan sebagai bahasa pertama yang dikuasai manusia sejak lahir melalui interaksi dengan lingkungan dan masyarakat sekitarnya, terutama keluarga.
Bahasa ini dipelajari secara alami, dan menjadi dasar komunikasi, pemahaman lingkungan, serta identitas budaya seseorang. Seringkali bahasa ibu merupakan bahasa daerah.
Bahasa ibu juga sering disebut sebagai bahasa pertama karena dipelajari tanpa sadar sejak kecil, berbeda dengan bahasa kedua yang dipelajari secara formal seperti misalnya di sekolah-sekolah.
Prof. Hendrokumoro sendiri menilai pentingnya peranan bahasa dalam tananan kehidupan sosial manusia.
Bahasa tidak hanya mencerminkan nilai dan norma budaya, tetapi juga mewujudkan dan mengaktualisasikan kehidupan sehari-hari.
Melalui medium bahasa, manusia mengekspresikan pengalaman hidupnya, membentuk interaksi sosial, serta mengonstruksi makna dalam konteks budaya serta historis tertentu.
Dengan kata lain bahasa ibu juga merupakan Identitas Budaya yang menjadi akar jati diri seseorang.
Sayangnya masih menurut Prof. Hendrokumoro, meskipun jumlah penutur bahasa Jawa merupakan yang terbesar di Indonesia, namun bahasa Jawa tetap tidak lepas dari dampak perkembangan zaman.
Arus globalisasi, kemajuan teknologi, serta perubahan gaya hidup masyarakat telah mempengaruhi penggunaan dan perkembangan bahasa Jawa saat ini.
Penggunaan bahasa Jawa yang cenderung terbatas pada konteks tertentu, seperti lingkup keluarga atau komunitas tradisional, dinilai mengakibatkan bahasa Jawa sebagai bahasa ibu orang Jawa semakin terpinggirkan oleh dominasi bahasa Indonesia dan bahasa asing.
Saat ini boleh dibilang semakin jarang ditemui keluarga Jawa di bawah usia 30-an yang menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa percakapan sehari-hari.
Mayoritas dari mereka memilih menggunakan dan mengajarkan bahasa Indonesia kepada anak-anak mereka.
Kalaupun ada, penggunaan bahasa Jawa lebih pada tingkatan tutur bahasa Jawa paling rendah yakni Ngoko.
Sementara dua tingkatan bahasa Jawa lainnya yakni Madya dan Krama jelas akan semakin sangat sulit ditemui.
Disamping akan mendegradasi bahasa Jawa sebagai bahasa ibu orang Jawa, hal ini tentu juga akan turut mempengaruhi berbagai proses kehidupan masyarakat Jawa itu sendiri.
Baik itu dalam mengekspresikan diri, melakukan interaksi sosial, hingga mengaktualisasikan nilai dan norma budaya ke-Jawa-annya dalam kehidupan sehari-hari.
Bahkan bukan tidak mungkin, semakin hilangnya penggunaan bahasa Jawa sebagai bahasa Ibu atau bahasa sehari-hari orang-orang Jawa, juga akan semakin mengikis jati diri dan identitas masyarakat Jawa itu sendiri.
Karena itu upaya pelestarian dan pengembangan guna mendorong penggunaan kembali bahasa Jawa menjadi sangat penting dilakukan. Tidak hanya di tataran pendidikan formal seperti sekolah-sekolah namun juga di tingkatan paling kecil yakni keluarga.
Dengan mengangkat keunikan, keindahan maupun keagungan bahasa Jawa lewat strategi kebijakan yang serius dan menyeluruh, diharapkan semakin banyak masyarakat Jawa yang akan memiliki rasa kebanggaan dan rasa cinta terhadap bahasa ibunya sendiri.
Dengan begitu pelestarian bahasa Jawa pun bisa berjalan secara organik dan tidak terpengaruh dengan kondisi dan tuntutan perkembangan zaman di ada saat ini.



