Oleh: Wahjudi Djaja
Madu di tangan kananmu. Racun di tangan kirimu. Aku tak tahu mana yang akan kau berikan padaku. Aku tak tahu mana yang akan kau berikan padaku.
Lagu Arie Wibowo (1985) itu amat akrab di indra dengar rakyat. Dengan suara renyah jenaka, dia berhasil menghibur rakyat. Apalagi kalau bukan melalui TVRI. Sederhana liriknya, tapi mengena dan lintas zaman.
Bagaimana tidak? Madu itu janji elite politisi yang selalu digaungkan saat kampanye. Serba indah, serba mudah, seolah seperti membalik telapak tangan saja saat memikirkan nasib rakyat. Apa yang terjadi kemudian? Tak perlu waktu lima tahun untuk membuktikan bahwa apa yang mereka bawa dan janjikan itu tak lebih sebuah racun.
Bahkan bukan dalam pengertian konotatif, tetapi denotatif. Apa adanya dan benar-benar terjadi dalam kehidupan rakyat. Dari 441 kasus kejadian luar biasa keracunan makanan MBG, tercatat sudah 11.000 korban sampai November 2025! Angka yang amat siginifikan untuk anak-anak yang diharapkan mewakili generasi emas 2045. Dan bagaimana sikap petinggi MBG? Tak masalah, perut belum biasa, atau ini, kurang bersyukur!
Atas nama membentuk generasi cerdas dalam matematika dan bahasa Inggris, kata Wamen Wamendiktisaintek, Stella Christie, MBG, tak boleh dihentikan. Kasus demi kasus yang terjadi masih tergolong kecil dibanding jumlah populasi anak-anak Indonesia! Ini logikanya bagaimana sehingga pemerintah menaruh harga murah atas nyawa rakyatnya. Kasus terakhir, puluhan mahasiswa Universitas Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta keracunan snack.
Cukup aneh dan menjengkelkan bahwa tiap kali ada kasus keracunan, pemerintah seolah menutup mata atas apa yang terjadi. Jangankan “hanya” keracunan, bencana alam dengan ribuan korban meninggal dunia atau hilang pun tak ada empati yang sepadan. Rasanya menyesakkan dada. Pemerintah gagal melindungi nyawa dan nasib rakyatnya.
Tak penting lagi membaca amanat pendiri bangsa, bahwa negara ini didirikan salah satunya untuk melindungi segenap bangsa Indonesia. Terakhir, bukannya sesegera mungkin me-recovery kehidupan rakyat justru mau menjual lumpur! Terbayangkah bagaimana truk bertonase besar lalu lalang membawa lumpur keluar dari Aceh dan memperparah jalan?
Kadang kita mau marah. Bagaimana mungkin pemimpin yang kita pilih dan beri amanah seolah tak mampu memetakan masalah, merangkai solusi dan memberikan alternatif penyelesaian atas duka derita rakyat. Sudah sejauh itukah deviasi pengamalan Pancasila dan konstitusi kita?
Beranjak lebih jauh dari kasus-kasus keracunan di atas, ada sesuatu yang lebih vital dan urgen disuarakan, rentannya kehidupan rakyat. PHK dan pengangguran menggila, lapangan kerja menyempit, sedang beban hidup yang meningkat, mendorong terbukanya konflik sosial berbau SARA. Rakyat dalam kondisi seperti rumput kering. Mudah terbakar apalagi dibakar. Kerusuhan Agustus 2025 bisa dibaca dalam konteks itu.
Kita, sadar atau diminta, mencintai Indonesia. Negeri amat kaya dan indah ini kita lihat sebagai anugerah. Tapi, kini, anugerah buat siapa? Rakyat atau pejabat? Atau malah komprador yang tega menjual bangsa demi keuntungan pribadi dan kelompoknya?
Sejak 1985 Arie Wibowo sudah mendendangkan lagu Madu dan Racun. Celakanya, kita yang tak mau dimadu apalagi diracun, justru berulang kali keracunan. Malang benar jadi bangsa Indonesia.
Penulis: Wahjudi Djaja, Budayawan Sleman dan Ketua Umum Keluarga Alumni Sejarah Universitas Gadjah Mada (Kasagama)



