Sayyid Mojtaba Khamenei, Perlawanan yang Ditulis dengan Tinta Darah - Mabur.co

Sayyid Mojtaba Khamenei, Perlawanan yang Ditulis dengan Tinta Darah

Sudah hari kesepuluh perang berlangsung dan lebih dari 241 jam. Bukan kebetulan jika di tanah para penyair besar semacam Hafiz dan Nizami, politik kerap kali menjelma seperti puisi yang pedih, juga kadang seperti api yang membakar.

Belum lama ini, bagi Iran momentum besar terjadi, yaitu terpilihnya Sayyid Mojtaba Khamenei, sebagai pengganti sang ayah.

Ada 88 anggota majelis tinggi ulama yang telah memilihnya. Ini bukanlah sekadar peristiwa administratif di atas meja birokrasi. Tapi, ia mungkin sebuah antologi puisi perlawanan yang ditulis dengan tinta darah.

Banyak yang mencibir, “ini politik dinasti!” Tuduhan ini mungkin ada benarnya, jika hanya melihat permukaan, dengan pandangan linieritas.

Tetapi ada yang lupa, bahwa dalam tradisi Timur, adakalanya “api” harus diwariskan kepada yang paling dekat dengan sumber panasnya, agar cahaya tak padam ditiup badai.

Mojtaba bukan sekadar anak biologis yang kemarin sore, bermain aneka boneka di meja kerjanya; ia sekaligus anak ideologis yang ditempa oleh ajaran agama yang ketat, sejarah kebesaran bangsa Persia, semangat revolusi republik Islam Iran dan rahasia-rahasia koridor kekuasaan yang sunyi.

Donald Trump, dengan keangkuhan dan sinisnya, mungkin mengira bahwa membunuh pohon tua dengan rudal akan menghentikan musim semi. Namun ia keliru. Sebab bukankah dari akar yang sama, tunas yang lebih muda, segar, kuat dan tajam justru akan menyembul?

Jika Trump menghendaki Iran yang layu dan mati, atau mengira sudah tumbang, maka majelis ulamanya, justru menyuguhkan Iran yang mungkin lebih kuat, dengan urat syaraf yang lebih kencang.

Maka terpilihnya Mojtaba ini adalah pesan kepada Tel Aviv dan Washington: bahwa “Wilayatul Faqih” bukanlah bangunan dari pasir yang runtuh oleh dentum rudal.

Ia adalah keyakinan. Dengan Mojtaba, Iran seolah sedang bersiap untuk sebuah “Karbala” yang panjang.

Mungkin mereka tidak sedang memilih pemimpin untuk meja perundingan, melainkan Sang Pemimpin untuk sebuah anak zaman di mana perlawanan adalah harga mati.

Sampai tak tak tersisa napas terakhir, dan jalan kesewenangan harus dihentikan, meski dengan banyak pengorbanan.

Di tangan Mojtaba, panji-panji itu tetap tegak. Bukan karena ia sekadar putra Sang Pemimpin, tapi karena ia dianggap mampu memeluk bara yang selama ini dijaga ayahnya tanpa sedikit pun merasa terbakar. Semoga! ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *