Mabur.co – Dalam berbagai kesempatan pidato, presiden Prabowo Subianto acapkali menyebut satu istilah yang cukup ngetren, dan belum pernah disampaikan oleh presiden manapun di era reformasi, yakni “antek-antek asing”.
Istilah “antek-antek asing” sendiri merupakan sebuah label negatif untuk menyindir pihak-pihak asing (luar negeri) yang dianggap lebih membela kepentingan negara lain daripada kepentingan nasional.
Secara tidak langsung, Prabowo telah mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk tidak berpihak kepada luar negeri (alias membenci pihak luar negeri), melainkan harus selalu berpihak pada kepentingan di dalam negeri sendiri.
Namun jangan salah, manusia adalah makhluk sosial, begitu pun dalam kehidupan bernegara. Tidak ada satu pun negara di dunia ini yang mampu hidup sendiri, tanpa mengandalkan bantuan dari negara lain, alias “antek-antek asing” itu tadi.
Karena walau bagaimanapun, pergaulan dengan “antek-antek asing” tetaplah sangat dibutuhkan, untuk dapat menunjang kehidupan masyarakat di dalam negeri.
Dan jikalau di kemudian hari ada orang-orang tertentu yang ternyata “jatuh cinta dengan antek-antek asing” (lebih suka mempelajari budaya luar negeri (seperti Jepang atau Korea), lebih tertarik tinggal dan bekerja di luar negeri, atau bahkan mencari pasangan hidup dari “antek-antek asing” di luar negeri), tentunya hal itu tetap sah-sah saja, dan tidak bisa langsung dituduh anti-nasionalis, tidak patriotik, dan lain sebagainya.
Semua itu adalah pilihan personal dari masing-masing individu, yang tidak bisa dipaksakan atau dipengaruhi begitu saja, termasuk oleh negara sekalipun.
Dilansir dari laman BBC, berikut adalah beberapa alasan sederhana, mengapa sebaiknya kita tidak perlu takut, membenci, apalagi anti terhadap “antek-antek asing”, seperti seruan yang selama ini disampaikan Prabowo dalam setiap pidatonya.
1. Saling Ketergantungan Ekonomi
Di era globalisasi seperti saat ini, hampir tidak ada negara yang bisa benar-benar mandiri tanpa kerja sama internasional. Indonesia pun tetap membutuhkan investasi dari “antek-antek asing” untuk menggerakkan roda perekonomian nasional, menciptakan lapangan kerja, dan membangun infrastruktur.
2. Transfer Teknologi dan Ilmu Pengetahuan
Kerja sama dengan “antek-antek asing” juga memungkinkan adanya transfer teknologi yang belum dimiliki di dalam negeri, yang pada akhirnya dapat mempercepat kemajuan bangsa.
3. Politik Bebas Aktif
Sesuai dengan prinsip dasar politik luar negeri Indonesia, negara berupaya untuk menjalin hubungan baik dengan semua pihak (Blok Barat maupun Timur) tanpa harus memihak salah satunya secara buta, demi kepentingan nasional yang lebih besar.
4. Bidang Olahraga (terutama Sepakbola)
Beberapa cabang olahraga di Indonesia juga kerap merekrut “antek-antek asing” dalam struktur organisasi maupun pemain profesional ke dalam tim mereka.
Salah satu yang paling mencolok tentu saja berasal dari cabang sepakbola. Dimana PSSI kerap menaturalisasi “antek-antek asing” dari Belanda maupun negara-negara eropa lainnya untuk kepentingan timnas Indonesia, terutama menghadapi persaingan di Kualifikasi Piala Dunia.
Meskipun masih gagal meraih impian lolos ke Piala Dunia (untuk edisi 2026), setidaknya perkembangan timnas Indonesia saat ini sudah berada dalam tren yang menanjak. Tentu saja hal itu bisa terjadi berkat kontribusi dari “antek-antek asing” itu tadi, seperti Jay Idzes, Ragnar Oratmangoen, dan masih banyak lagi.
***
Selain itu, presiden Prabowo sendiri juga sebenarnya cukup sering bergaul dengan “antek-antek asing”, bahkan dengan negara-negara yang bisa dikatakan sebagai “penjajah”, seperti Amerika Serikat, Rusia, dan lain sebagainya.
Tentu saja tidak mungkin, jika Prabowo mengajak masyarakat untuk membenci masyarakat asing, sementara dirinya sendiri justru sangat sering melakukan safari politik ke luar negeri, apalagi ke negara-negara penjajah.
Atau jangan-jangan, Prabowo juga merupakan bagian dari “antek-antek asing” itu sendiri, persis seperti apa yang sering ia omon-omonkan dalam setiap pidato. (*)


