Keruntuhan Majapahit sering disederhanakan sebagai akibat Perang Paregreg (1404–1406). Pandangan ini tidak sepenuhnya keliru, tetapi sangat tidak memadai.
De Graaf dan Pigeaud (1974) dalam De Eerste Moslimse Vorstendommen op Java memperingatkan bahwa runtuhnya Majapahit adalah proses berlapis yang mencakup disintegrasi ekonomi, delegitimasi dinasti, dan pergeseran gravitasi perdagangan dari pusat agraris ke pesisir maritim.
Robson (1981) dalam kajiannya tentang Kidung Harsa-Wijaya mencatat bahwa otoritas Majapahit mulai tergerus jauh sebelum Perang Paregreg.

Pajak berlebihan, korupsi elite kerajaan, dan lemahnya kontrol atas jalur perdagangan antarpulau membuat banyak kadipaten pesisir mencari orientasi baru.
Slamet Muljana (1968) dalam Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa menegaskan bahwa para pedagang Muslim dari Gujarat, Persia, dan Arab tidak hanya membawa dagangan.
Mereka membawa sistem nilai, jaringan kredit, dan tatanan hukum baru yang jauh lebih adaptif terhadap kebutuhan kota-kota pelabuhan.
Tanggal 1478 sebagai tahun jatuhnya Majapahit, yang disebut dalam berbagai babad, juga diperdebatkan.
Berg (1953) dan Schrieke (1957) mengingatkan bahwa sumber-sumber Jawa seringkali bercampur antara kronologi historis dan simbolisme kosmologis.
Namun demikian, Ricklefs (2001) dalam A History of Modern Indonesia menerima 1478 sebagai penanda simbolis yang cukup valid untuk menandai berakhirnya hegemoni Hindu-Buddha di Jawa tengah.
Demak: Bukan Sekadar Pelanjut, Melainkan Ruptur Peradaban
Kesultanan Demak yang didirikan oleh Raden Patah bukan sekadar kerajaan baru, dia adalah ruptur epistemologis.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah Jawa, legitimasi kekuasaan tidak didasarkan pada konsep dewa-raja yang menurunkan takhta dari langit Hindu, melainkan pada otoritas syariat Islam dan restu para ulama (Wali Songo).
Identitas Raden Patah sendiri merupakan jembatan simbolis antara dua peradaban: ia diklaim sebagai keturunan Majapahit dari pihak ayah, namun dari pihak ibu, seorang perempuan Tionghoa Muslim, ia mewakili dunia baru perdagangan dan kosmopolitanisme.
De Graaf dan Pigeaud (1974) menilai klaim genealogi ini sebagai strategi legitimasi yang sangat cerdas, sekaligus mengingatkan bahwa kebenarannya secara historis tidak dapat diverifikasi sepenuhnya karena bergantung pada babad yang ditulis jauh setelah peristiwanya.
Peran Wali Songo dalam pembangunan Demak bukan sekadar religius. Lombard (1990) dalam Le Carrefour Javanais menunjukkan bahwa para wali adalah agen perubahan sosial yang mendalam.
Mereka membangun pesantren sebagai lembaga pendidikan alternatif, mengintegrasikan Islam ke dalam seni dan budaya lokal melalui wayang maupun gamelan, serta menjadi negosiator antara kepentingan pedagang, petani, dan penguasa.
Kotak Analisis: Saka Tatal Sunan Kalijaga, Legenda atau Ekspresi Teologi?
Kisah Saka Tatal, tiang masjid yang dirakit Sunan Kalijaga dari potongan-potongan kayu sisa, kerap dibaca semata sebagai narasi karomah mistis.
Pembacaan ini mengabaikan dimensi teologis-politisnya yang lebih dalam. Dakwah Sunan Kalijaga memanfaatkan simbol-simbol Jawa yang sudah mengakar, gotong royong, kebijaksanaan dalam keterbatasan, dan mengisinya dengan muatan Islam.
Ricklefs (2006) dalam Mystic Synthesis in Java menyebut ini sebagai “sintesis mistis” yang menjadi ciri khas islamisasi Jawa: bukan pemaksaan, melainkan transformasi bertahap dari dalam. Dalam kerangka ini, Saka Tatal bukan sekadar mukjizat, ia adalah manifesto dakwah inklusif.
Sultan Trenggana: Puncak dan Bibit Keruntuhan
Masa pemerintahan Sultan Trenggana (berkuasa 1521–1546) adalah puncak kejayaan Demak sekaligus mengandung bibit kehancurannya.
Di bawah Trenggana, Demak berhasil menaklukkan Banyumas, Malang, Pasuruan, dan sebagian besar Jawa Timur.
Ia juga melancarkan ekspedisi ke Sunda Kelapa pada 1527 untuk mengusir Portugis, sebuah strategi geopolitik yang menunjukkan ambisi lintas Nusantara.
Namun Trenggana gagal menyelesaikan satu masalah struktural yang fatal: ia tidak menciptakan mekanisme suksesi yang jelas.
Ketika ia tewas dalam pertempuran di Panarukan (1546), sebuah fakta yang masih diperdebatkan, apakah ia gugur dalam perang atau korban intrik internal (Graaf, 1974), Demak langsung terjerumus ke dalam krisis suksesi yang tidak dapat diatasi.
Arya Penangsang: Antagonis yang Terlalu Disederhanakan
Tradisi Babad Tanah Jawi menempatkan Arya Penangsang sebagai villain: keras, ambisius, dan tidak mendapat restu para wali.
Historiografi modern memandang gambaran ini dengan skeptis. Penangsang adalah cucu Raden Patah yang memiliki klaim genealogis kuat atas takhta Demak. Dari perspektif hukum suksesi kerajaan Jawa, klaimnya bahkan lebih kuat dari lawan-lawannya.
Kumar (1976) dalam Javanese Court Society and Politics in the Late Eighteenth Century mengingatkan bahwa narasi tentang raja jahat dalam babad seringkali merupakan konstruksi post-hoc dari pihak pemenang.
Joko Tingkir dan kelompok Pajang berkepentingan untuk melegitimasi pengambil-alihan kekuasaan mereka dengan menggambarkan Penangsang sebagai tiran yang layak digulingkan.
Yang tidak terbantahkan secara historis adalah bahwa Penangsang memang menggunakan kekerasan untuk mengkonsolidasi kekuasaan, termasuk membunuh Sunan Prawoto.
Metode ini mengganggu tatanan politik yang ada dan mendorong koalisi adipati-adipati daerah untuk menentangnya.
Dalam bahasa ilmu politik modern, ia memiliki legitimasi herediter tetapi gagal membangun legitimasi prosedural.
Joko Tingkir: Meritokrasi dalam Masyarakat Aristokratis
Kisah Joko Tingkir, nama aslinya Mas Karebet, adalah narasi yang langka dalam konteks Jawa feodal: seorang pemuda dari keluarga yang terpinggirkan (ayahnya dihukum mati atas tuduhan ajaran menyimpang) yang berhasil menembus hierarki kekuasaan melalui kombinasi kemampuan militer, kecerdasan politik, dan keberuntungan struktural.
Kisah pertarungannya dengan buaya di Bengawan Solo, seperti banyak narasi serupa dalam babad, harus dibaca sebagai kode budaya, bukan laporan empiris.
Lombard (1990) menjelaskan bahwa dalam tradisi Jawa, “menaklukkan buaya” adalah metafora untuk menguasai kekuatan-kekuatan alam (dan kekuatan sosial liar yang belum tertata).
Kisah ini melegitimasi Joko Tingkir sebagai seseorang yang telah “terbukti” layak memimpin, bahkan sebelum ia tiba di Demak.
Kemampuan Joko Tingkir untuk menavigasi konflik di Demak dan akhirnya mengalahkan Penangsang menunjukkan kecakapan yang lebih dari sekadar kesaktian fisik.
Ia berhasil membangun koalisi yang mencakup Ratu Kalinyamat dari Jepara dan para adipati lain yang tidak puas, sebuah prestasi diplomatik yang tidak diakui cukup dalam narasi populer.
Rati Kalinyamat dan Politik Dendam yang Mengubah Sejarah
Ratu Kalinyamat, Retna Kencana, putri Sultan Trenggana, hampir selalu digambarkan dalam satu dimensi: perempuan yang dendamnya kepada Arya Penangsang membakar semangat perang.
Pembacaan ini adalah reduksi yang merugikan. Kalinyamat adalah penguasa Jepara yang mandiri, perancang armada laut, dan diplomat internasional yang mengirimkan ekspedisi ke Malaka untuk mengusir Portugis dua kali (1551 dan 1574).
Pires dalam Suma Oriental (sekitar 1515) mencatat Jepara sebagai pelabuhan niaga yang ramai dan strategis.
Di bawah Kalinyamat, Jepara berkembang menjadi kekuatan maritim yang disegani. Sumber Portugis menyebutnya sebagai pemimpin yang tangguh, a rainha de Japara, yang tidak segan menggunakan kekuatan militer untuk kepentingan politik.
Kisah tapanya di Gunung Danaraja “tanpa busana” sebagai simbol duka dan tekad, yang sangat populer dalam tradisi lisan, harus dipahami dalam konteks ritual asketisme Jawa yang memang mengenal praktik semacam ini sebagai ekspresi konsistensi batin tertinggi.
Ia bukan sekadar perempuan berduka, ia sedang melakukan proklamasi publik bahwa ia tidak akan berdamai sampai keadilan ditegakkan.
Perannya dalam koalisi anti-Penangsang adalah kontribusi material dan strategis, bukan sekadar emosional.
Pasukan Jepara yang ia kerahkan memberikan keunggulan militer yang menentukan dalam pertempuran di Bengawan Sore.
Tombak Kyai Pleret dan Danang Sutawijaya: Benih Mataram
Dalam pertempuran Bengawan Sore, Arya Penangsang tewas oleh tombak Kyai Pleret yang digunakan oleh Danang Sutawijaya, anak angkat Joko Tingkir yang kelak akan mendirikan Mataram.
Ironi sejarah ini sangat dalam: orang yang membunuh musuh Pajang adalah orang yang kemudian akan menghancurkan Pajang itu sendiri.
Ricklefs (2001) mengingatkan bahwa penempatan Sutawijaya sebagai pelaksana eksekusi Penangsang, bukan Joko Tingkir sendiri, adalah sebuah pilihan strategis yang mungkin disengaja: dengan tidak menodai tangannya sendiri, Joko Tingkir mempertahankan aura kesuciannya sebagai penguasa, sementara Sutawijaya menerima hadiah Mataram sebagai imbalannya.
Sultan Hadiwijaya: Arsitek Stabilitas yang Terlupakan
Kesultanan Pajang (1568–1587) kerap dilihat hanya sebagai jembatan antara Demak dan Mataram, terlalu penting untuk diabaikan, tetapi terlalu singkat untuk mendapat perhatian penuh.
Pandangan ini tidak adil. Sultan Hadiwijaya adalah pemimpin yang berhasil menstabilkan Jawa tengah setelah dua dekade konflik, menyatukan kembali adipati-adipati yang terpecah, dan membangun sistem pemerintahan yang cukup solid untuk diwarisi Mataram.
Pemindahan pusat kekuasaan dari Demak ke Pajang bukan sekadar perpindahan ibu kota, ia adalah sinyal ideologis bahwa model pemerintahan Islam Jawa sedang bergeser dari model pesisir-maritim ke model agraris-pedalaman.
Pergeseran ini akan mencapai puncaknya di Mataram, yang secara tegas memilih orientasi “ke dalam” dan membangun legitimasinya lebih pada tradisi Jawa-Islam sinkretis daripada jaringan perdagangan pesisir.
Mengapa Pajang Gagal?
Kegagalan Pajang bukan disebabkan oleh satu faktor tunggal. Ada setidaknya tiga variabel struktural yang saling menguat: pertama, absennya sistem suksesi yang jelas setelah Hadiwijaya wafat (1582); kedua, kebangkitan Mataram yang memanfaatkan vakum kekuasaan dengan sangat cermat; ketiga, lemahnya dukungan elite pesisir yang lebih tertarik pada otonomi daripada subordinasi kepada pusat agraris baru.
Ricklefs (2001) mencatat bahwa pertikaian antara Pangeran Benawa dan Arya Pangiri atas takhta Pajang membuka peluang emas bagi Sutawijaya. Dengan membantu Benawa mengalahkan Pangiri, Sutawijaya menempatkan dirinya sebagai “penyelamat” Pajang, posisi yang memungkinkannya secara moral untuk mengklaim supremasi tanpa tampak sebagai agresor.
Senopati: Di Antara Sejarah dan Mitos
Danang Sutawijaya yang mengambil gelar Panembahan Senopati (“Panglima Agung”) adalah sosok yang paling banyak diselimuti mitos dalam sejarah Mataram.
Kisah pertapaannya di Parangtritis dan hubungan mistisnya dengan Ratu Kidul adalah narasi yang sangat populer, tetapi juga sangat problematik secara historiografis.
Ricklefs (2006) dalam Mystic Synthesis in Java menganalisis bahwa narasi Ratu Kidul berfungsi sebagai mekanisme legitimasi spiritual yang sangat efektif: dengan mengklaim restu dari penguasa laut selatan, Senopati memposisikan dirinya tidak hanya sebagai kekuatan militer-politik, tetapi sebagai pemimpin kosmis yang mendapat mandat dari dunia gaib. Ini adalah kelanjutan cerdas dari tradisi dewa-raja Jawa, hanya saja dibalut dalam kerangka Islam-Jawa sinkretis.
Apa yang dapat dikonfirmasi secara historis adalah: Senopati mendirikan Mataram sekitar 1586, melakukan ekspansi militer yang agresif ke seluruh Jawa, dan berhasil menaklukkan Madiun, Kediri, Ponorogo, serta melemahkan Surabaya.
Ia wafat sekitar 1601 setelah memerintah lebih dari satu dekade, pencapaian yang tidak kecil mengingat tantangan yang ia hadapi.
Tantangan Legitimasi: Masalah yang Tidak Pernah Sepenuhnya Terpecahkan
Senopati menghadapi satu problem legitimasi yang fundamental: ia bukan keturunan langsung dari dinasti yang diakui.
Berbeda dengan Raden Patah yang mengklaim darah Majapahit, atau Joko Tingkir yang meneguhkan diri melalui prestasi militer dan dukungan ulama, Senopati harus membangun legitimasinya hampir dari nol.
Strategi ganda yang ia gunakan, ekspansi militer untuk membuktikan kapasitas, dan mitos spiritual untuk membangun legitimasi kosmis, adalah respons yang cerdas terhadap dilema ini.
Kumar (1976) mencatat bahwa keberhasilan Senopati menunjukkan bahwa dalam konteks Jawa abad XVI, kemampuan aktual seorang pemimpin untuk mendatangkan ketertiban dan kemakmuran bisa mengalahkan klaim genealogis, setidaknya untuk sementara.
Ancaman VOC: Bayangan yang Mulai Menggelap
Pada masa akhir pemerintahan Senopati, VOC Belanda mulai mengukuhkan kehadiran mereka di Batavia (didirikan 1619 di bawah Jan Pieterszoon Coen, setelah Senopati wafat). Namun tanda-tanda kehadiran Eropa yang semakin agresif sudah terasa. Mataram di bawah Senopati belum berhadapan langsung dengan VOC, tetapi secara struktural sudah berada dalam sistem dunia yang sama dengan kekuatan kolonial Eropa.
Reid (1988) dalam Southeast Asia in the Age of Commerce menunjukkan bahwa kebangkitan VOC di Asia Tenggara adalah bagian dari transformasi global perdagangan rempah-rempah yang mengubah tatanan kekuasaan lokal secara fundamental.
Mataram, dengan orientasinya yang lebih agraris dan ke dalam, akan menghadapi tantangan ini dengan cara yang berbeda dari kesultanan-kesultanan pesisir, sebuah perbedaan yang akan menjadi dramatis di bawah Sultan Agung.
Masalah Sumber: Antara Babad dan Sejarah
Salah satu kelemahan terbesar dalam historiografi Demak-Pajang-Mataram adalah ketergantungan berlebihan pada babad sebagai sumber primer.
Babad bukan kronik netral, ia adalah teks yang dikomposisi dalam konteks politik tertentu, oleh penulis yang memiliki kepentingan tertentu, dan seringkali ditulis puluhan atau bahkan ratusan tahun setelah peristiwa yang dikisahkan.
De Graaf (1949) dalam Geschiedenis van Indonesie sudah mengingatkan hal ini: babad adalah sumber yang sangat berharga untuk memahami bagaimana suatu komunitas memaknai masa lalunya, tetapi berbahaya jika digunakan sebagai bukti faktual tanpa verifikasi silang dengan sumber-sumber lain, termasuk sumber Portugis, Cina, dan Belanda yang kontemporer.
Sumber-sumber Cina, seperti yang dikaji oleh Groeneveldt (1880) dan kemudian Salmon (2010), memberikan sudut pandang berbeda tentang Demak dan jaringan perdagangannya. Dokumen Portugis, meski penuh bias kolonial, memberikan data tentang kapasitas militer dan hubungan diplomatik yang tidak ditemukan dalam babad. Historiografi yang serius harus memperlakukan semua lapisan sumber ini secara kritis dan berdampingan.
Periodisasi yang Diperdebatkan
Tanggal-tanggal kunci dalam narasi ini, 1478 (runtuhnya Majapahit), 1568 (berdirinya Pajang), 1586 (berdirinya Mataram), semuanya memiliki derajat ketidakpastian yang berbeda-beda.
Ricklefs (2001) menyatakan bahwa banyak tanggal dalam babad Jawa diorganisasi mengikuti prinsip sengkalan, kode kronologis berbasis aksara Jawa yang memerlukan interpretasi, dan karenanya memiliki margin error yang harus diperhitungkan dalam analisis historis.
Dimensi yang Kurang Tereksplorasi
Narasi standar Demak-Mataram cenderung berfokus pada aktor-aktor elite laki-laki dan peristiwa-peristiwa politik besar.
Setidaknya tiga dimensi penting sering terabaikan: pertama, peran perempuan selain Ratu Kalinyamat, termasuk permaisuri, ulama perempuan, dan pedagang perempuan dalam jaringan Islam awal; kedua, perspektif rakyat biasa dan dampak perubahan kekuasaan terhadap kehidupan agraris; ketiga, dinamika komunitas non-Muslim, Tionghoa, Hindu Bali, dan kelompok-kelompok lokal, dalam proses islamisasi yang sama.
Lombard (1990) dan Reid (1988) membuka jalan bagi pendekatan sejarah sosial yang lebih inklusif ini, tetapi ruang ini masih sangat luas untuk dijelajahi oleh peneliti Indonesia masa kini.
Satu Abad yang Mengubah Wajah Jawa
Dari Demak (1478) ke Mataram (1586) adalah lebih dari sekadar pergantian dinasti. Ia adalah satu abad transformasi peradaban yang mengubah cara orang Jawa memahami kekuasaan, agama, identitas, dan hubungan mereka dengan dunia.
Islam tidak menghapus Jawa, ia diserap, dinegosiasikan, dan ditransformasikan oleh Jawa, menghasilkan sebuah sintesis yang unik dan hingga kini masih membentuk kehidupan jutaan manusia.
Para aktor utama dalam sejarah ini, Raden Patah yang menjembatani dua peradaban, Wali Songo yang berdakwah dengan kearifan kultural, Joko Tingkir yang membuktikan bahwa prestasi bisa mengalahkan darah, Ratu Kalinyamat yang menunjukkan bahwa perempuan adalah subjek sejarah bukan sekadar objek narasi, Panembahan Senopati yang membangun imperium dari tanah yang hampir kosong, adalah manusia-manusia dengan kompleksitas yang tidak dapat dikembalikan ke dalam kategori pahlawan atau penjahat sederhana.
Tantangan historiografi kita saat ini adalah untuk terus memperbarui narasi tentang periode ini: lebih kritis terhadap sumber, lebih inklusif dalam aktornya, lebih peka terhadap kompleksitas di balik mitos, dan lebih berani dalam mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab.
Karena sejarah yang baik bukan yang memberikan semua jawaban, melainkan yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tepat.
Nb:
Artikel ini merupakan karya ilmiah akademik-populer yang mengacu pada sumber-sumber terverifikasi. Kutipan dan reproduksi sebagian diperbolehkan dengan mencantumkan sumber. Untuk publikasi penuh, diperlukan izin tertulis dari penulis. Karena masalah teknis, referensi, sumber dan kajian tak bisa dimasukkan dalam opini ini.
Yogyakarta, 02032026



