Kali Winongo, Parit Barat Keraton yang Meminta Maaf

3 Min Read
Riverside market area with stalls along a stone embankment, a muddy canal, and a walkway featuring red railings and decorative posts.
Bantaran Kali Winongo. (Foto: Istimewa)

Mabur.co – Jika kita membuka peta Keraton Yogyakarta akan nampak diapit dua garis biru. Timurnya Kali Code, baratnya Kali Winongo. Dua-duanya parit alami.

“Keraton Yogyakarta yang berdiri kokoh hingga saat ini menempati posisi yang sangat strategis. Terdapat batas-batas alam berupa Kali Code di sebelah timur dan Kali Winongo di sebelah barat,” tulis naskah Babad Nitik Ngayogya yang dikutip dalam kajian sejarah keraton.

Lebih spesifik lagi Sultan Hamengku Buwana I kemudian segera membuat ibukota kerajaan beserta istananya yang baru dengan membuka daerah baru (babat alas) di Hutan Paberingan. Terletak antara aliran Sungai Winongo dan Sungai Code. Titik nolnya 7 Oktober 1756, yang dirayakan sebagai HUT Kota Yogyakarta.

Tembok Sekaligus Parit Barat Istana

Jadi Winongo bukan sungai pinggiran. Ia adalah tembok sekaligus parit barat istana. Kalau Code lekat dengan mitos lampor kereta Ratu Kidul, Winongo lekat dengan mitos kesuburan.

Namanya dari Winanga yang berarti angkuh, karena arusnya deras saat hujan. Panjangnya 43,75 km dari Ngelosari di lereng Merapi hingga bermuara di Opak, Kretek, Bantul.

Di tengahnya, ia melewati ISI Yogyakarta, kampus seni yang sering mengambil airnya untuk ritual. Warga bantaran Winongo tidak menganggap sungai sebagai musuh.

Pada 8 September 2013, mereka menggelar Sedekah Kali Winongo di Kampung Jatimulyo, Kricak.

“Kami tidak dipisahkan oleh kali. Tetapi tumbuh dan dipersatukannya. Dengan bambu kami bersatu,” mantra itu diucapkan serentak warga saat melarung gunungan hasil bumi ke Winongo.

“Kami ingin berterima kasih sekaligus meminta maaf kepada sungai atas apa yang sudah kami lakukan,” kata Pengawas Paguyuban Kali Jawi, Mujiyono, waktu itu.

Terima kasih karena tidak membanjiri, maaf karena sering mengotori. Itu filosofi keraton yang diajarkan Sultan HB I: Hamemayu Hayuning Bawono.

Penyeimbang Antara Api dan Air

Keraton didirikan segaris dengan Merapi dan Laut Kidul yang bermakna penyeimbang antara api dan air. Winongo adalah sisi barat, sisi yang menghadap ke matahari terbenam, sisi yang dalam kosmologi disebut pati, tempat pulang.

Nanti malam, ketika kamu lewat Jembatan Winongo di dekat Tegalrejo, coba berhenti. Di sebelah utara kamu dengar gemericik air dari Merapi, di sebelah selatan kamu lihat lampu keraton.

Di tengahnya, Winongo masih mengalir sebagai penjaga barat yang setia sejak hutan Beringin dibuka 270 tahun lalu. ***

Share This Article
Cartoon man singing into a microphone, holding a sheet of paper, wearing a hat and scarf against an orange background.
Sastrawan, Antropolog.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar