Mabur.co– Dalam rangka memperingati 101 Tahun RM Saptohoedojo, Pusat Kebudayaan Saptohoedojo berhasil menyelenggarakan berbagai acara.
Mulai dari melukis on the spot Komunitas Pelukis Titik Nol Jogja, Minggu pagi (1/2/2026), pameran seni rupa “Gothak-Gathuk Pethuk” karya Ansori dan En Roel pada 1-7 Februari 2026, pembacaan puisi puluhan perempuan pejabat OPD Pemerintah Kabupaten Sleman pada 5 Februari 2026, hingga puncak acara diselenggarakan bedah pemikiran RM Saptohoedojo oleh Prof. Narsen Afatara, MS dan Dr. Drs. Hajar Pamadhi, MA (Hons) pada Sabtu (7/2/2026).

Direktur Pusat Kebudayaan Saptohoedojo, Wahjudi Djaja, mengatakan, selanjutnya direncanakan akan ada pembuatan biografi perjalanan RM Saptohoedojo.
Biografi tersebut akan menjadi dokumentasi pemikiran agar tersimpan dengan baik untuk wacana di masa depan.
“Bangsa ini sangat kekurangan pengetahuan, kekurangan nilai-nilai keutamaan, kita dipaksa oleh pemerintah untuk melakukan apa yang ada. Semakin jauh dari tradisi, maka kita akan mengangkat tokoh-tokoh budaya lewat biografi,” ucapnya.
Dr. Drs. Hajar Pamadhi, MA (Hons), menjelaskan, semasa hidup RM Saptohoedojo, karya-karyanya sangat beragam. Bukan hanya spesifik jadi seorang pelukis saja. RM Saptohoedojo mendudukkan seni sebagai media ekspresi yang bermacam-macam.
“Jadi karya-karyanya itu, bermacam-macam. Ada seni lukis, ada patung, ada kriya, dan sebagainya. Itulah yang membedakan dengan seniman lain yang hanya melukis saja. Saptohoedojo juga merupakan seniman yang total dalam berkarya. Kadang-kadang membuat patung, kadang-kadang membuat desain. Kemudian juga ada karya keramik, gerabah, batik, banyak pokoknya,” ujarnya saat ditemui mabur.co, Sabtu (7/2/2026).
Hajar Pamadhi menuturkan, menjadi saksi betapa dirinya merupakan mahasiswa Saptohoedojo. Pernah ikut kuliah, mata kuliah menggambar model. Baginya, Saptohoedojo memang seniman yang kuat basis realismenya.
“Saptohoedojo orang yang sangat luar biasa. Seniman flamboyan yang selalu menggunakan pakaian high (pakaian berkelas pada zamannya),” ujar Hajar Pamadhi yang sehari-harinya juga menjadi Dosen S2, Program Studi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa, UGM.
Hajar Pamadhi kembali menuturkan, perlu diketahui juga bahwa perkembangan seni sangatlah luar biasa.
“Di masa seni kontemporer, misalnya, seni itu satu. Yaitu estetika yang ada di dalam tubuh kita, yang diungkapkan,” paparnya. Begitulah karya Saptohoedojo merepresentasikan diri.
Sementara itu, Prof. Narsen Afatara, MS, mengatakan, Saptohoedojo memberikan contoh yang baik bagi Indonesia dalam penciptaan karya seni.
“Banyak orang yang kadang-kadang tertarik dengan aspek fisik, lalu mengambil alih. Meskipun orang lain tertarik dengan gaya atau estetika Saptohoedojo, namun karena sudah memiliki ciri khas tersendiri, maka siapa pun yang mengambil alih pasti kelihatan. Itu gaya Saptohoedojo!” paparnya.
Narsen Afatara juga menjelaskan, buat seniman sekarang, jangan melihat terlalu jauh.
“Kadang-kadang kita memang ketinggalan, perlu melihat ke belakang. Jangan lupa di Indonesia, tokoh-tokoh seniman bagus banyak,” pungkasnya. ***



