Mabur.co – Pemimpin Kartel CJNG (Jalisco New Generation Cartel) yang selama ini menjadi salah satu buronan paling dicari di Meksiko dan Amerika Serikat, Nemesio Rubén “El Mencho” Oseguera Cervantes, tewas setelah bentrokan dengan militer Meksiko dalam operasi besar di Tapalpa, Negara Bagian Jalisco, Minggu waktu setempat.
Gubernur Jalisco, Pablo Lemus Navarro mengonfirmasi bahwa Oseguera “El Mencho” termasuk di antara tujuh anggota kartel yang tewas dalam operasi tersebut.
Ia mengalami luka parah dalam baku tembak antara pasukan khusus Meksiko dan pengawalnya, lalu meninggal dalam perjalanan menuju Mexico City.
Dilansir dari New York Post, Oseguera “El Mencho” sendiri merupakan mantan anggota kepolisian yang beralih menjadi gembong narkotika.
Selama bertahun-tahun ia memimpin CJNG menjadi salah satu organisasi kriminal paling berpengaruh dan brutal di Meksiko.
Pemerintah Amerika Serikat bahkan menawarkan hadiah sebesar 15 juta dollar AS bagi siapa pun yang dapat memberikan informasi yang mengarah pada penangkapannya.
Menteri Pertahanan Meksiko, Ricardo Trevilla, mengatakan aparat sebelumnya melacak seorang pria yang memiliki hubungan dekat dengan kekasih Oseguera.
Dari pengembangan informasi tersebut, lokasi persembunyian “El Mencho” yang terletak di sebuah kompleks resor terpencil di Tapalpa akhirnya berhasil diidentifikasi.

Operasi tersebut kemudian dilancarkan dengan melibatkan angkatan darat, angkatan udara, serta unit elit Garda Nasional yang dilatih khusus untuk memerangi kartel narkoba.
Operasi ini juga disebut bisa berhasil berkat dukungan informasi intelijen dari AS.
Namun pasca-kematian pemimpin kartel CJNG, para pengikut setia Oseguera “El Mencho” langsung melakukan balasan dengan membuat berbagai kekacauan.
Masih dilansir dari New York Post, Menteri Keamanan Meksiko, Omar García Harfuch, bahkan menyebut sedikitnya 27 serangan terhadap aparat terjadi di Jalisco dalam waktu singkat setelah kabar kematian pemimpin mereka tersebar.
Hingga Senin, sedikitnya 25 anggota Garda Nasional dilaporkan tewas.
Di sisi lain, 30 anggota kartel juga dilaporkan tewas dalam berbagai bentrokan lanjutan.
Secara nasional, dampak serangan balasan kartel CJNG ini juga semakin luas.
Lebih dari 50 orang dilaporkan meninggal dunia dalam rangkaian kekerasan tersebut.
Tak hanya itu, sedikitnya 252 ruas jalan diblokir menggunakan kendaraan yang dibakar.
Bandara di Puerto Vallarta dan Guadalajara juga sempat membatalkan sejumlah penerbangan akibat situasi keamanan yang memburuk.
Di Guadalajara, kota terbesar kedua di Meksiko, sejumlah aktivitas dilaporkan lumpuh sementara setelah kelompok bersenjata menutup sejumlah akses utama kota dan terlibat baku tembak dengan aparat.
CJNG bahkan mengeluarkan pernyataan yang menyatakan perang terhadap pemerintahan Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum.

CJNG sendiri berdiri sekitar 2007–2009 sebagai pecahan dari Kartel Sinaloa.
Di bawah kepemimpinan Oseguera “El Mencho”, organisasi ini berkembang pesat dan dikenal dengan metode kekerasan ekstrem.
Pada 2015, kelompok tersebut menembak jatuh helikopter militer menggunakan granat berpeluncur roket, menewaskan sembilan orang.
Mereka juga diketahui menggunakan ranjau darat serta drone bermuatan bahan peledak dalam berbagai serangan terhadap kelompok saingan maupun aparat keamanan.
CJNG kerap menampilkan aksi brutal di ruang publik sebagai bentuk intimidasi.
Beberapa kasus mutilasi dan penemuan jasad tanpa kepala di Jalisco dalam beberapa tahun terakhir dikaitkan dengan kelompok tersebut.
Pemerintah Meksiko menyebut operasi di Tapalpa sebagai bagian dari upaya memperkuat kembali kehadiran negara dalam menghadapi kartel-kartel narkoba.
Namun, gelombang kekerasan susulan menunjukkan bahwa persoalan keamanan pasca-tewasnya gembong narkoba paling dicari di Meksiko itu belum selesai.
Dengan tewasnya Oseguera “ElMencho”, otoritas kini bersiap menghadapi kemungkinan perebutan kekuasaan di dalam tubuh CJNG, yang dikhawatirkan dapat memicu konflik internal maupun eskalasi kekerasan baru di berbagai wilayah Meksiko. ***



