Mabur.co– Kondisi dunia saat ini sedang tidak baik-baik saja. Selain dilanda konflik, juga ketimpangan ekonomi, perubahan iklim, hingga terjadinya kemunduran nilai-nilai kemanusiaan.
Situasi tersebut berisiko melahirkan dehumanisasi masyarakat global akibat dominasi kepentingan ekonomi-politik global.
“Dunia tengah menghadapi krisis ekonomi dan perang dengan segala risiko dehumanisasi. Praktik-praktik penghancuran kemanusiaan itu terjadi,” ujar Sosiolog UGM, Arie Sujito, kepada mabur.co, Selasa (24/2/2026).
Menurut Arie, krisis global turut berdampak pada kondisi nasional, termasuk melemahnya etika publik, meningkatnya pragmatisme, serta menurunnya penghargaan terhadap nilai kemanusiaan.
Ia juga menyinggung persoalan demokrasi dan tata kelola pemerintahan yang dinilai masih menghadapi berbagai tantangan seperti korupsi, ketimpangan, dan lemahnya tata kelola kebijakan publik.
Kondisi tersebut, menurutnya, berpotensi memperburuk krisis sosial jika tidak diimbangi dengan penguatan nilai keadaban dan tanggung jawab negara.
“Demokrasi kita tidak sedang baik-baik saja. Politik hukum kita tidak sedang menjadi model yang dapat diharapkan. Karena itu kita harus memperkuat nilai toleransi, saling menghargai perbedaan, dan membangun tanggung jawab sosial,” tuturnya.
Perkembangan teknologi digital saat ini turut memberikan dua sisi yang tidak dapat dipisahkan. Di satu sisi, kemajuan teknologi informasi membuka akses pengetahuan, mempercepat komunikasi, dan memperkuat konektivitas.
Menurutnya, mahasiswa memiliki peluang besar dalam memanfaatkan ruang digital sebagai sarana belajar serta berbagi gagasan.
Namun di sisi lain, ia mengingatkan bahwa ruang digital juga berpotensi melahirkan fragmentasi sosial, polarisasi politik, hingga penyebaran informasi yang tidak terverifikasi.
Arus informasi yang cepat tanpa disertai kedewasaan literasi dapat memperkeruh ruang publik dan melemahkan etika bermedia.
Ia menekankan bahwa kebebasan dalam ruang digital bukanlah kebebasan tanpa tanggung jawab.
“Kebebasan digital itu harus digunakan untuk kemaslahatan bersama, bukan untuk memperkuat konflik sosial,” ujarnya.
Ia menilai bahwa tantangan terbesar generasi muda bukan sekadar menguasai teknologi, melainkan membangun kebajikan warga negara (civic virtue) di tengah derasnya arus informasi.
Tanpa landasan etika dan kesadaran sosial, teknologi justru dapat memperdalam jurang perbedaan dan memperkuat sentimen sempit.
“Yang harus kita lakukan adalah upaya-upaya edukasi, upaya-upaya pencegahan, serta membangun sistem yang kuat,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa sumber daya manusia di Indonesia perlu diposisikan sebagai subjek pembangunan.
Adanya dukungan pendidikan merupakan prioritas penting yang harus dijalankan secara humanis.
Tidak hanya berorientasi pada kebutuhan pasar, tetapi juga harus membentuk karakter, kesadaran sosial, serta nilai kemanusiaan.
Ia juga menambahkan bahwa kecerdasan tidak cukup diukur dari capaian angka akademik semata.
Ia menekankan pentingnya integritas dan rekam jejak moral dalam membangun manusia Indonesia yang unggul dan berkeadaban.
“Kecerdasan seseorang bukan hanya semata-mata diukur dari angka yang muncul, tetapi adalah karakter jejak di belakang itu,” katanya. ***



