Kembali mantan Menpora dan pengamat politik Andi Mallarangeng menuliskan refleksi atas situasi perang di Timur Tengah.
Melalui akun Facebook Andi Mallarangeng poin refleksi itu tersampaikan.
Berikut kutipan utuh poin refleksi yang dimaksud, dikutip Rabu (8/4/2026).
Amerika dan Iran setuju untuk melakukan gencatan senjata selama 2 minggu, dan perundingan dimulai kembali, dengan dimediasi oleh Pakistan.
Harga minyak langsung turun menjadi di bawah 100 USD per barrel. Selat Hormuz dibuka kembali sehingga jalur pengangkutan minyak dan gas kembali lancar.
Ini yang diharapkan dunia, sehingga krisis energi yang berkepanjangan bisa segera berhenti. Kalau tidak, krisis energi ini bisa berlanjut menjadi krisis ekonomi dunia, termasuk di negeri kita.
Yang penting, gencatan senjata ini juga mengikat Israel. Nggak ada gunanya kalau Israel tidak merasa terikat dengan kesepakatan gencatan senjata ini.
Sebenarnya, baik Amerika, Israel maupun Iran semuanya sudah kewalahan berperang. Perang ini mahal bagi Amerika dan Israel. Setiap hari Amerika menghabiskan 1 milyar dollar untuk berperang. Harga BBM di Amerika pun sudah mencapai 4 dollar per gallon.
Israel pun sudah menipis cadangan rudal Patriotnya untuk sistem pertahanan mereka. Rudal dan drone Iran sudah lebih leluasa menghantam sasaran di Israel.
Sebaliknya, Iran pun, walau masih terus melawan, sudah luluh lantak dihantam rudal Amerika dan Israel.
Karena itu lebih baik berunding dan mencari kesepakatan damai yang bisa diterima oleh semua pihak. Kalau bisa dirundingkan secara damai kenapa harus berperang?



