Mabur.co – Ekonom atau pengamat ekonomi, Ferry Latuhihin, baru saja membuat heboh masyarakat beberapa waktu lalu, dengan menyatakan bahwa Indonesia terancam mengalami krisis, yang bahkan lebih parah ketimbang krisis moneter tahun 1998.
Hal itu ditandai dengan naiknya nilai tukar Dollar ke Rupiah hingga mencapai Rp17 ribu pada pertengahan bulan lalu.
Selain itu, Ferry juga merasa bahwa daya beli masyarakat sedang menurun, meskipun pada akhir Ramadan lalu, mereka tetap menerima THR (Tunjangan Hari Raya). Namun hal itu tidak lantas membuat daya beli mereka meningkat.
Pernyataan Ferry itu pun langsung dibantah oleh Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa.
Ia menganggap bahwa Ferry hanyalah seorang analis ekonomi, dan tidak benar-benar mengerti kondisi yang sebenarnya, lantaran ia tidak berada dalam lingkup pemerintahan seperti Purbaya.
Purbaya juga mengatakan bahwa kondisi ekonomi Indonesia masih dalam keadaan baik, termasuk pada periode Lebaran lalu.
Mendengar hal itu, Ferry pun kembali membantah, terkait apa yang disampaikan oleh Purbaya beberapa waktu lalu.
Dalam siaran podcast di kanal YouTube Awalil Rizky, belum lama ini, Ferry mengatakan, bahwa sejumlah pernyataannya terkait ancaman kondisi ekonomi Indonesia itu sama sekali tidak bermaksud untuk menakut-nakuti masyarakat.
“Asal tahu aja ya, kita itu tidak asal ngomong (terkait kondisi ekonomi Indonesia). Purbaya itu salah kalau kita itu dibilang asal ngomong. Kita tuh punya alasannya semua. Kita kan sekolah gitu loh,” tegas Ferry seperti dilansir dari kanal YouTube Awalil Rizky, belum lama ini.
Ferry menambahkan, ia mengacu pada konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat (AS), dan juga Israel.
Menurutnya, jika Iran ternyata mampu memenangkan perang tersebut, harga minyak dunia tidak serta-merta akan turun begitu saja.
“Kalau Iran menang (dalam konflik geopolitik dengan AS-Israel), jangan harap bahwa harga minyak akan turun. Karena Iran juga punya kepentingan menjaga harga minyak di atas 100 (barrel) untuk meruntuhkan ekonomi Amerika, supaya Amerika tidak bisa membiayai perang lagi, termasuk menyerang Iran. Itu kan logis banget,” tambah Ferry.
Ferry pun balik menantang pemerintah pusat (termasuk Menkeu Purbaya).
Di tengah situasi sulit seperti saat ini, ia meminta agar pemerintah mampu menerapkan kebijakan yang bisa meyakinkan pasar (ekonomi dunia), untuk setidaknya bisa melemahkan tekanan terhadap mata uang rupiah, dan seterusnya. (*)



