Mabur.co – Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, nampaknya semakin geram dengan berbagai gimmick politik yang ditunjukkan oleh Pemerintahan Prabowo Subianto dalam beberapa waktu terakhir.
Termasuk ketika menanggapi pendapatnya yang menyatakan presiden itu “bodoh”, serta memplesetkan MBG menjadi “Maling Berkedok Gizi”.
Beberapa respons dari pejabat negara muncul, misalnya dari Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi. Serta Menteri HAM, Natalius Pigai.
Respons Pigai pun dianggap tidak sesuai dengan konteks utama yang dimaksud Tiyo, melainkan hanya berusaha melindungi diri dari cacian publik yang semakin menjadi-jadi.
Hal ini lantas dikaitkan dengan pernyataan Prabowo yang sempat viral pada 2018 lalu, saat mengatakan bahwa Indonesia akan bubar pada 2030 mendatang. Dan ternyata, setelah terpilih menjadi presiden enam tahun kemudian, ucapan itu seolah-olah kian menjadi kenyataan.
“Jangan-jangan beliau (Prabowo) bukan hanya meramalkan (bahwa Indonesia akan bubar), tapi juga mewujudkannya sendiri. Karena semua syarat kehancuran sejatinya sudah kita miliki secara lengkap, yaitu krisis politik, demokrasi, dan krisis ekonomi. Ketika semuanya bertemu di momen yang bersamaan, di situlah akan terjadi hari yang tidak pernah kita harapkan,” ujar Tiyo sebagaimana dikutip dari podcast Pojok Keramat di kanal YouTube Terus Terang Media, Kamis (26/2/2026).
Atas dasar itulah, Tiyo menyatakan telah merangkul aktivis mahasiswa dari berbagai kampus di Yogyakarta, untuk bersama-sama membuat gerakan besar, dan membayangkan terjadinya “reformasi jilid 2”.
“Saya sudah mengajak beberapa teman sekaligus berkeliling di beberapa tempat, untuk mulai membayangkan ‘reformasi jilid dua’. Karena saat ini pun, syarat terjadinya reformasi juga sudah lengkap, yaitu adanya kemunduran demokrasi, krisis politik, serta krisis ekonomi. Karena akan sangat berbahaya jika semua itu terjadi, tapi publik masih belum siap menghadapinya,” tambah Tiyo.
Hal itu dilakukan Tiyo bukan tanpa alasan, sebab Tiyo merasa sudah saatnya publik kembali bersatu dan membentuk kekuatan bersama, untuk benar-benar menyadarkan (atau bahkan menggulingkan) rezim yang dianggapnya sudah zalim ini.
Hal ini semakin diperparah dengan mampetnya kanal-kanal aspirasi kepada pemerintah, yang selama ini berfungsi sebagai wadah aspirasi masyarakat, baik melalui DPR, polisi, kejaksaan, dan sebagainya.
“Rezim hari ini sudah begitu keterlaluan, karena watak kekuasaannya yang tidak mendengar suara publik. Padahal dia dipilih oleh publik. Dan ketika suara publik dalam negara demokrasi itu tidak dipertimbangkan, maka demokrasi itu sejatinya sudah cacat sejak awal,” ucap Tiyo.
Dengan mengonsolidasikan kekuatan rakyat secara bersama-sama, termasuk para aktivis mahasiswa dari berbagai kampus, Tiyo berharap bahwa gerakan yang disebut sebagai “reformasi jilid 2” akan benar-benar mampu mengubah wajah pemerintahan Indonesia secara keseluruhan.
Sekaligus mencegah kemungkinan “Indonesia Bubar 2030” seperti yang pernah diucapkan oleh Prabowo sendiri. (*)



