Mabur.co – Dalam kunjungan kenegaraan di Aceh pada Sabtu (21/3/2026) lalu, presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa pembangunan huntara (hunian sementara) di kawasan Aceh Tamiang yang terdampak Banjir Bandang telah mencapai 100%, dan siap dihuni oleh warga terdampak banjir bandang, yang selama ini hanya bisa tidur di tenda pengungsian, dan seterusnya.
Selang beberapa hari kemudian, pernyataan Prabowo itu langsung dibantah oleh salah satu warga setempat.
Melalui unggahan di akun media sosial TikTok, salah satu warga menceritakan langsung bagaimana kondisi yang sebenarnya terjadi di Aceh Tamiang dan sekitarnya.
Dimana kawasan tersebut masih jauh dari kata layak untuk kelangsungan hidup masyarakat setempat, termasuk hingga periode Lebaran seperti saat ini.
Bahkan, pembangunan huntara yang disebut sudah mencapai 100%, nyatanya hanya terjadi di beberapa titik saja, dan belum menyentuh seluruh lapisan masyarakat yang ikut terdampak bencana banjir bandang.
Video tersebut diketahui berasal dari unggahan salah satu penyintas banjir di Desa Sekumur, kecamatan Sekerak, kabupaten Aceh Tamiang, yang bernama Wara Cantika (@waracantika06), Minggu (22/3/2026).
Dalam video tersebut, Wara menjelaskan bagaimana masyarakat yang ada di sana masih belum menerima bantuan apapun dari pemerintah, apalagi bantuan berupa hunian sementara (huntara).
Selain itu, Wara juga membantah pernyataan Prabowo bahwa seluruh warga terdampak banjir sudah pindah ke huntara.
Fakta yang sebenarnya justru berbanding terbalik, dimana huntara yang disiapkan di Desa Sekumur baru rampung sekitar lima persen saja.
Belum ada atap atau tembok yang menempel di dalamnya. Yang ada hanyalah rangka penyangga sebagai fondasi awal, dan itu pun masih belum jelas kapan akan diselesaikan.
”Bapak lihat ini Pak, lihat desa kami yang terisolir ini. Hunian sementara (Huntara) baru ada sekitar 5% dan itu pun belum ada atapnya, belum bisa kami tempati sama sekali,” ujar Wara dalam videonya di akun TikTok @waracantika06 dengan suara bergetar.
Lebih lanjut, Wara juga meminta Presiden Prabowo agar tidak mempercayai laporan anak buahnya begitu saja (yang menyatakan bahwa seluruh warga terdampak sudah pindah ke Huntara).
Karena seluruh anak buah (menteri dan sebagainya) adalah pembohong, dan hanya ingin menyampaikan laporan ABS (Asal Bapak Senang).
“Bapak jangan terlalu percaya dengan jajaran Bapak. Mereka bilang semuanya sudah baik-baik saja, sudah ada Huntara, tapi itu semua bohong. Yang ada kami kedinginan dan kepanasan di sini, Pak!” tegasnya.
Tidak hanya itu, Wara pun meminta Presiden Prabowo agar benar-benar terjun ke seluruh lokasi terdampak bencana, dan tidak hanya mengunjungi kawasan perkotaan saja, yang menjadi lokasi huntara itu sudah dirampungkan sepenuhnya.
Karena di daerah pelosok itulah, terlihat bagaimana kondisi real dari warga terdampak banjir yang belum tersentuh bantuan sedikit pun dari pemerintah.
Warga setempat pun masih belum bisa lepas dari “huntara” yang bernama tenda darurat, yang tentu saja sangat tidak layak untuk dijadikan tempat tinggal. (*)
Hingga saat ini, para penyintas di Desa Sekumur masih sangat membutuhkan hunian yang layak dan berharap suara mereka didengar langsung oleh Istana agar bantuan yang dijanjikan benar-benar sampai ke tangan yang tepat.



