Mabur.co- Janji tak tertulis bahwa konflik Timur Tengah akan selalu berhenti di perbatasan Dubai kini hancur berantakan.
Gempuran Iran tersebut merupakan respons terhadap operasi tempur yang dilancarkan AS dan Israel.
Hotel-hotel mewah dan bandara utama. Dubai, yang merupakan salah satu bandara tersibuk di dunia berdasarkan lalu lintas penumpang, turut mengalami kerusakan.
Seperti dikutip Reuters, Selasa (17/3/2026), rentetan serangan rudal balasan Iran pada hari Sabtu pekan lalu telah menghantam sektor-sektor vital kota tersebut, sekaligus menggoyahkan fondasi psikologisnya sebagai salah satu surga investasi paling aman (safe haven) di dunia.
Warga Uni Emirat Arab, Becky Williams, melihat sekitar 15 rudal diluncurkan dari belakang rumahnya kemarin.
Rudal yang dimaksud merupakan persenjataan UEA untuk mencegat proyektil Iran yang menuju Dubai.
“Anda bisa mendengar cegatan itu terjadi di udara,” kutip BBC.
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan dalam unggahan di X bahwa lebih dari 90 target militer Teheran dihantam di Pulau Khark.
Sementara itu, Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab (UEA) mengonfirmasi bahwa wilayahnya menjadi sasaran serangan rudal balistik Iran.
Dalam pernyataan resminya, otoritas pertahanan UEA melaporkan bahwa sistem pertahanan udara mereka telah bekerja ekstra keras dan berhasil mencegat sejumlah rudal yang diarahkan ke objek-objek vital di negara tersebut.
Meskipun sebagian besar ancaman berhasil dipatahkan di udara, jatuhnya serpihan rudal di kawasan pemukiman di Abu Dhabi dilaporkan memicu kerusakan material yang cukup signifikan.
Insiden ini juga memakan korban jiwa, di mana satu orang warga negara asing asal Asia dinyatakan tewas akibat hantaman serpihan proyektil tersebut di area padat penduduk.
Pemerintah UEA mengutuk keras serangan ini dan menyebutnya sebagai eskalasi berbahaya yang sengaja dirancang untuk merusak stabilitas kawasan secara total.
“Kementerian mengecam serangan ini dengan nada yang paling keras, menekankan penolakan mutlak negara terhadap penargetan objek sipil, fasilitas, dan institusi nasional, serta menekankan bahwa tindakan semacam itu merupakan eskalasi berbahaya dan tindakan pengecut yang mengancam keamanan dan keselamatan warga sipil serta merusak stabilitas,” bunyi pernyataan resmi Kementerian Pertahanan UEA dikutip Al Jazeera. ***



