Mabur.co – Presiden Prabowo seringkali “menutup telinga” ketika ada pihak-pihak yang mengatakan bahwa kondisi ekonomi sedang tidak baik-baik saja, atau Indonesia sedang berada dalam ancaman krisis, termasuk krisis kepercayaan terhadap pemerintah, dan seterusnya.
Hal itu lantas membuat presiden seolah abai, terhadap situasi yang sebenarnya terjadi di lapangan, yang seringkali tidak sesuai dengan apa yang (ingin) ia dengar, dari para bawahannya di pemerintahan.
Menurut Ekonom, Ferry Latuhihin, kondisi semacam itu akan sangat berbahaya bagi kelangsungan pemerintahan Prabowo Subianto, pasalnya ia tidak akan mampu mengerti keadaan rakyat yang sebenarnya, kecuali berupa khayalan atau ilusi yang ia ciptakan sendiri tentang Indonesia yang “sempurna”.
“Saya khawatir bahwa presiden akan terus hidup dengan angan-angannya, bahwa ‘bangsa kita adalah bangsa yang besar’, ‘ekonomi kita kuat,’ bla bla bla. Asyik dalam pikirannya sendiri, gitu,” ungkap Ferry sebagaimana dilansir dari kanal YouTube Kanal SA, belum lama ini.
Dengan kondisi seperti itu, Ferry pun tidak heran apabila kemudian Prabowo terus-terusan nyinyir kepada siapa pun yang tidak setuju dengan “ilusi”-nya tersebut.
Namun pada akhirnya, fakta di lapangan seringkali berbeda dari angan-angan yang diimpikan presiden.
“Ya nggak bisa disalahkan juga sih kalau orang hidup dalam angan-angannya begitu. Sementara menteri-menterinya nggak ada yang berani ngomong (bahwa kondisi yang sebenarnya tidak sesuai dengan angan-angan presiden). Sehingga akhirnya ya tidak terjadi apa-apa gitu,” tambah Ferry.
Ferry pun meyakini bahwa Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga sejatinya paham, bahwa situasi saat ini sedang tidak baik-baik saja. Sayangnya Menkeu tidak memiliki keberanian untuk mengatakan hal itu kepada presiden.
Termasuk kemungkinan untuk menghapus program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sudah pasti akan ditolak dengan berbagai alasan “semu”.
Padahal menurut Ferry, cukup dengan menghentikan MBG saja, ruang fiskal negara akan kembali ke angka yang seharusnya, sehingga Indonesia dapat terhindar dari ancaman krisis. (*)



