Mabur.co – Lama tak terdengar namanya, mantan Capres nomor urut 3 dalam Pemilu 2024, Ganjar Pranowo, kembali hadir di hadapan publik. Dalam acara diskusi “Red Talks, Proud To Be 16%” yang berlangsung di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Pada kesempatan tersebut, ia turut mengomentari jalannya program MBG (Makan Bergizi Gratis), yang telah menimbulkan keracunan di berbagai daerah, serta bagaimana solusi yang dirasa tepat untuk mencegah hal itu tak terulang kembali.
Tidak hanya itu, Ganjar juga turut membandingkan kebijakan MBG yang berlaku saat ini, dengan pendekatan yang ia lakukan saat masih menjabat sebagai Gubernur Jawa Tengah.
Terutama yang berkaitan dengan kesejahteraan guru honorer, yang ironisnya justru kalah dengan kesejahteraan pegawai SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) dan BGN (Badan Gizi Nasional), sebagai lembaga yang menaungi pelaksanaan program MBG di seluruh Indonesia.
“Cerita MBG itu suka tidak suka pasti akan tetap dilaksanakan, wong itu program dia (Prabowo Subianto) kok. Anda mau cerewet kayak apa itu pasti akan tetap dilaksanakan. Kecuali ada gerakan massa yang sanggup memprotes program ini secara besar-besaran,” ucap Ganjar Pranowo.
Menurut Ganjar, pelaksanaan MBG saat ini cenderung tidak efektif, karena terlalu dipaksakan ke semua anak di seluruh Indonesia, dan tidak berfokus pada anak-anak miskin yang lebih membutuhkan.
“Kita butuh berani untuk menyuarakan aspirasi terkait MBG ini. Dan lebih baik makanannya diberikan kepada yang miskin saja,” pungkas Ganjar.
Selain itu, Ganjar juga menyarankan agar alokasi dana MBG diserahkan langsung kepada orang tua yang bersangkutan untuk anak-anak miskin tadi.
Karena yang namanya orang tua tidak akan mungkin berniat meracuni anak-anaknya sendiri.
“Kalau umpama ibunya dikasih duit Rp10.000 untuk satu porsi makan gratis ini, bagi seorang ibu, masakin anaknya senilai 10 ribu itu kira-kira akan dikorupsi jadi hanya 5 ribu saja, atau malah ditambahi lagi? Pasti ditambain lagi, enggak mungkin enggak. Lalu ketika dalam seminggu akan mendapatkan 60 ribu, itu malah bisa jadi makan-makan satu keluarga, tidak hanya satu anak saja,” ungkap Ganjar.
Apalagi menurut Ganjar, seorang ibu pasti sudah mengetahui makanan yang disukai maupun yang tidak disukai oleh anaknya sendiri.
Sehingga menu yang diberikan pun akan lebih sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak, sekaligus mencegah terjadinya keracunan, seperti yang marak terjadi dalam program MBG saat ini.
Ketika MBG hanya diaplikasikan kepada rakyat miskin dan diserahkan langsung kepada orang tua, maka penggunaan anggaran pun bisa lebih hemat, dan mampu dialokasikan untuk kepentingan lain yang lebih mendesak, salah satunya adalah pendidikan. (*)



