Mabur.co – Setelah hadir dalam persidangan Botok dan Teguh di Pengadilan Negeri Pati, Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, kembali ke kota asalnya di Kudus, Jawa Tengah, untuk bertemu dengan Forum Mahasiswa Kudus.
Kedatangan Tiyo di forum ini bukan sekadar silaturahmi biasa, karena ia semakin banyak meyakinkan teman-teman sejawatnya, agar mulai membayangkan terjadinya “reformasi jilid 2”, untuk menggulingkan rezim Prabowo-Gibran, yang masih memiliki waktu 3,5 tahun lagi untuk menjabat di pemerintahan pusat Republik Indonesia.
Menurut Tiyo, dalam kondisi saat ini, dari skala 1 sampai 10, ia menyebut bahwa urgensi tentang hadirnya “Reformasi Jilid 2” berada di angka 7, artinya sudah mencapai 70%.
“Kalau kita melihat peluang secara nasional, semua sudah mengarah pada pertemuan antara krisis politik dengan krisis ekonomi. Itu akan jadi realitas yang tak terhindarkan, manakala dalam enam bulan ke depan tetap tidak ada perubahan secara mendasar,” ucap Tiyo dilansir dari kanal YouTube BETA TV, Kamis (5/3/2026).
Bagi Tiyo, kunci utama agar tidak terjadi “reformasi jilid 2” adalah bagaimana pemerintah mampu membuat kebijakan publik secara mendasar yang seluruhnya berpihak kepada rakyat, sehingga tidak akan mengalami yang namanya krisis ekonomi.
“Kalau dalam enam bulan ke depan tetap tidak ada perubahan mendasar dalam membuat kebijakan publik, maka tinggal menunggu waktu saja aksi ini akan segera terjadi,” ungkap Tiyo.
Adapun menurut Tiyo, tiga hal lainnya yang dianggap mampu merealisasikan terjadinya gerakan “reformasi jilid 2” ini adalah, timbulnya kesadaran kolektif rakyat (untuk melawan kekejaman rezim penguasa), kebijakan pemerintah dianggap sudah tidak lagi bisa diharapkan, serta adanya keajaiban Tuhan, yang dapat menguatkan rakyat sekaligus melemahkan rezim kekuasaan. (*)



