Mabur.co – Sebagai kota pelajar, kota wisata, budaya, dan sejarah, Yogyakarta dikenal memiliki banyak museum yang tersebar di berbagai daerah.
Salah satu museum unik dan menarik yang patut dikunjungi adalah Museum Tani Jawa yang terletak di Dusun Candran, Desa Kebonagung, Imogiri, Bantul.
Meski terletak jauh di sisi selatan, sekitar 20 kilometer dari pusat kota Yogyakarta, museum ini tetap selalu ramai dikunjungi pengunjung.
Tak hanya wisatawan lokal atau Nusantara saja, pengunjung museum ini juga banyak berasal dari turis asing mancanegara asal berbagai negara.
Dari namanya, Museum Tani Jawa merupakan museum yang sangat terkait dengan sektor pertanian yang merupakan ciri utama masyarakat agraris Nusantara.
Museum ini menyimpan, mengonservasi, serta memamerkan berbagai peralatan pertanian tradisional, adat, dan tradisi petani yang ada di Indonesia khususnya masyarakat Jawa.
Menurut Data Pemerintah Provinsi DIY, dikutip Senin (6/4/2026), Museum Tani Jawa pertama kali dirintis dan digagas oleh Bapak Kristya Bintara pada tahun 1998, yang ingin membuat tempat belajar berbagai hal terkait pertanian kepada generasi muda.
Sekitar tahun 2005, ia dan rekan-rekannya pun mulai mengumpulkan berbagai koleksi alat-alat pertanian yang banyak dipakai petani dan ditemui di masyarakat.
Berbagai benda koleksi alat-alat pertanian itu kemudian dikumpulkan di sebuah rumah Joglo Bapak Subandi selaku Dukuh Kanten, Kebonagung.
Lewat benda maupun alat pertanian tradisional inilah diharapkan anak-anak kota dapat mengenal dunia pertanian yang menjadi sumber peradaban masyarakat Nusantara.
Namun sayang, saat terjadinya gempa Jogja yang dahsyat pada tahun 2006, bangunan tempat penyimpanan ini ikut hancur dan runtuh bersama ribuan bangunan rumah lainnya.
Pascaperistiwa gempa tersebut, tempat penyimpanan itu kembali didirikan di rumah Bapak Sarjono atau Purwowiyono yang terletak di Dusun Candran.
Hingga saat ini lokasi inilah yang kemudian dijadikan sebagai Museum Tani Jawa, setelah diresmikan pada tanggal 4 Mei 2007.
Sebagai bagian pengembangan dan pelestarian pada tahun 2017, Pemerintah DIY melalui Dinas Kebudayaan memberikan bantuan revitalisasi pada museum Tani Jawa ini.
Berada di Desa Wisata Candran, keberadaan Museum Tani Jawa Indonesia, tak hanya bertujuan melestarikan benda atau alat-alat tradisional warisan leluhur di sektor pertanian.
Namun juga mewariskan nilai-nilai kejuangan petani bagi generasi muda. Seperti sikap jujur, sederhana, penuh kerja keras, toleransi,hingga selalu bersyukur atas setiap berkah Tuhan Yang Maha Esa.
Berbagai nilai itu ditujukan dalam setiap acara tradisi atau ritual pertanian yang banyak ditemui di tengah masyarakat petani sampai saat ini.
Hingga saat ini tercatat ada lebih dari 200 buah koleks alat pertanian tradisional yang disimpan di museum ini. Alat-alat pertanian itu dikumpulkan dari hasil hibah penduduk sekitar.
Koleksi-koleksi itu antara lain luku, garu, cangkul, keranjang, lesung, lumpang, sabit, ani-ani, caping, wajan, cowek, kendil, anglo, keren, kenthongan, gosrok, dan lain-lain.
Selain melihat langsung alat-alat tersebut pengunjung juga bisa mencoba atau mempraktikkan penggunaan alat tersebut di lahan pertanian melalui paket trip yang disediakan pengelola.
Di museum ini juga terdapat sejumlah alat permainan tradisional seperti bakiak dan egrang yang bisa dicoba pengunjung. Hingga berbagai pelatihan pertanian dan peternakan kambing.
Buka setiap hari Senin-Sabtu mulai pukul 08.00-15.00 WIB, untuk bisa masuk ke museum ini pengunjung hanya dikenai tiket sebesar Rp. 5000.
Sementara untuk Paket wisata Tani Jawa dipatok mulai Rp. 100.000 per orang.



