Suluh Sumurup Art Festival 2026, Ubah Cara Pandang Publik Menilai Disabilitas

3 Min Read
Large colorful painting of people in striped clothing hanging on a white gallery wall, with a pink frame; other artworks line the corridor.
Para seniman difabel menampilkan karya-karya mereka dalam Suluh Sumurup Art Festival 2026 di Taman Budaya Yogyakarta. Pameran ini mengajak pengunjung melihat seni dari sudut pandang yang berbeda. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co – Para seniman difabel menampilkan karya-karya mereka dalam Suluh Sumurup Art Festival 2026 di Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Pameran ini mengajak pengunjung melihat seni dari sudut pandang yang berbeda.

Pada pameran Suluh Sumurup Art Festival 2026 bertema “Maneges” menghadirkan 193 karya dari 131 seniman difabel.

Kegiatan seni berupa pameran tersebut berlangsung 24 September–2 Oktober 2026 di TBY dengan melibatkan 13 komunitas, sanggar, dan sekolah dari 14 provinsi serta enam Taman Budaya se-Indonesia.

Colorful painted cardboard boxes stacked in a sculptural tower inside a white-walled gallery, with a person viewing artworks in the background.
Pameran Suluh Sumurup Art Festival 2026 bertema “Maneges” menghadirkan 193 karya dari 131 seniman difabel. Kegiatan seni berupa pameran tersebut berlangsung 24 September–2 Oktober 2026 di Taman Budaya Yogyakarta (TBY), melibatkan 13 komunitas, sanggar, dan sekolah dari 14 provinsi serta enam Taman Budaya se-Indonesia. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Kurator Suluh Sumurup Art Festival, Budi Irawanto, mengatakan, festival tersebut diharapkan mengubah cara publik memandang penyandang disabilitas.

Seniman Difabel sebagai Subjek Kreatif

Mereka tidak semestinya hanya dilihat berdasarkan identitas disabilitas, tetapi sebagai subjek kreatif yang memiliki gagasan, kegelisahan, kepedulian, dan karya yang layak diapresiasi.

“Kami berharap publik melihat disabilitas sebagai subjek kreatif,” ujarnya, Jumat (25/9/2026).

Budi mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian Temu Karya Taman Budaya se-Indonesia XXV Tahun 2026.

“Melalui festival ini, seni tidak hanya ditempatkan sebagai ruang ekspresi, tetapi juga sebagai sarana membangun kepercayaan diri, memperluas kesempatan, dan mendorong perubahan cara pandang terhadap seniman difabel,” ucapnya.

Budi menjelaskan, penyelenggaraan Suluh Sumurup terus berkembang dari tahun ke tahun. Pada awalnya, jejaring seniman difabel yang terlibat masih terbatas di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Jejaring tersebut kemudian meluas ke berbagai daerah di Indonesia. Perluasan dilakukan karena masih terbatasnya ruang yang dapat mewadahi karya seniman difabel di sejumlah daerah.

Perluas Jaringan Seni Ruang Inklusif

Tema “Gegandengan” pada tahun pertama menjadi bagian dari proses membangun jejaring. Pada tahun berikutnya, keterlibatan seniman dari luar DIY semakin diperkuat. Tahun ini, tema “Maneges” menjadi penajaman arah festival.

“Maneges menjadikan seni sebagai ruang yang inklusif,” katanya.

Budi menuturkan, inklusivitas tidak cukup diwujudkan dengan menyediakan tempat bagi seniman difabel untuk memamerkan karya.

Lebih dari itu, diperlukan ekosistem yang memungkinkan mereka berkembang sebagai pekerja seni.

“Saya berharap Suluh Sumurup pada masa mendatang terus menemukan cara kreatif untuk memperluas ruang berkarya bagi seniman difabel,” ucapnya tegas.

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar