Kekeringan Berbulan-bulan, Warga Temanggung Gelar Tradisi Perang Cendol Dawet

3 Min Read
Group of people splash water from plastic buckets on a woman in a red skirt during a water festival in a tropical garden setting.
Tradisi saling menyiramkan minuman cendol dawet sebagai bentuk permohonan kepada Tuhan agar segera menurunkan hujan. (Foto: Antara)

Mabur.co – Kekeringan yang berlangsung berbulan-bulan membuat warga Desa Kemiriombo, Kecamatan Gemawang, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, kembali menjalankan tradisi turun-temurun untuk memohon hujan.

Mereka menggelar salat Istisqa yang dilanjutkan doa bersama dan tradisi perang cendol dawet di kawasan perkebunan kopi, Jumat (25/9/2026).

Tradisi tersebut berlangsung di kawasan pepunden Bon Gede atau Bon Agung, Dusun Gabug, Desa Kemiriombo. Sejak pagi, warga mulai berdatangan ke lokasi yang berada di tengah perkebunan kopi tersebut.

Warga yang mayoritas merupakan petani kopi datang membawa cendol dawet dari rumah. Dawet dibawa menggunakan berbagai wadah, mulai dari ember, panci, hingga kantong plastik.

Saling Melempar Cendol Dawet

Rangkaian kegiatan diawali dengan salat Istisqa yang diikuti warga. Salat kemudian dilanjutkan dengan doa bersama untuk memohon agar hujan segera turun dan kekeringan berakhir. Setelah doa selesai, suasana berubah. Tanpa dikomando, warga mulai saling melempar cendol dawet yang telah mereka bawa.

Kepala Desa Kemiriombo, Nur Wahyu, menuturkan, acara hari ini, pertama melakukan salat Istisqa agar diberi hujan.

Karena di desa yang ada sudah beberapa bulan tidak turun hujan. Setelah itu, slametan dan lempar-lempar candil dawet (perang cendol dawet).

“Tradisi ini disebut hanya digelar jika kemarau berkepanjangan. Terakhir, warga menggelar tradisi ini tiga tahun lalu, saat El Nino seperti saat ini,” ujarnya dilansir detik.com.

Nur Wahyu, menuturkan, tradisi ini terakhir dilangsungkan tahun 2023. Kekeringan di sini sudah berlangsung sekitar 4,5 bulan. Tapi karena dengan kondisi cuaca ekstrem sangat panas, banyak pohon kopi yang sudah mati dan mengering.

“Saya tak mengetahui sejarah awal mula tradisi ini digelar. Warga hanya mengikuti tradisi turun temurun yang telah dilakukan sejak dulu,” tuturnya.

Tradisi Nenek Moyang dan Hari Sakral

Nur Wahyu mengatakan, dipilih cendol dawet bukan yang lain karena sudah pesanan atau pun tradisi dari nenek moyang menggunakan cendol dawet.

“Kita balang-balang cendol itu turun temurun kita laksanakan. Kita ambil pas di Jumat Kliwon. Karena itu menjadi hari sakral untuk Desa Kemiriombo,” katanya.

Nur Wahyu berharap, usai tradisi ini digelar hujan segera turun di wilayahnya. Sebab, kemarau panjang cukup menyulitkan bagi mayoritas warga yang merupakan petani kopi.

“Harapannya agar segera diberi hujan dan para petani bahagia ketika hujan turun. Seluruh tanaman kembali tumbuh dengan baik. Kemarau bisa tidak dilaksanakan khusus ketika tanaman sudah banyak yang tumbuh. Jika kering kita laksanakan tradisi ini,” ucapnya. ***

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar