Jamu Kiringan, Eksis Puluhan Tahun dan Sudah Daftar UNESCO

Mabur.co– Mempunyai hobi berwisata tentunya menjadi kesenangan sendiri saat merasakannya. Apalagi jenis-jenis wisata yang disuguhkan sangat beragam.

Daya tarik yang dimiliki menjadi ciri khas. Berwisata bukan hanya mengenai panorama alam atau suatu bangunan bersejarah. Pedesaan pun bisa dikemas menjadi sebuah destinasi wisata yang bisa dikunjungi oleh para wisatawan.

Terlebih desa tersebut menawarkan ciri khas yang hanya ditemukan pada desa itu sendiri, khususnya pada Desa Wisata Jamu Kiringan yang berada Dukuh Kiringan, Desa Canden, Kecamatan Jetis, Bantul.

Muhammad Sutrisno, pria kelahiran Bantul, 12 Juli 1959 silam, yang menjadi  Pengelola Desa Wisata Jamu Gendong Kiringan, mengatakan, berawal dari kebiasaan warga menanam Tanaman Obat Keluarga (TOGA) di pekarangan rumah, Dusun Kiringan akhirnya membentuk citra baru sebagai Desa Wisata Jamu Kiringan. Sesuai namanya, potensi desa ini adalah jamu tradisional.

”Awalnya, penanaman tanaman obat tersebut hanya bertujuan mempermudah perolehan bahan baku jamu tradisional warga setempat. Namun, seiring waktu, produk jamu Dusun Kiringan mulai dikenal di daerah sekitar, membuat permintaan minuman tradisional itu makin tinggi,” ujarnya saat ditemui mabur.co, Minggu (25/1/2026).

Muhammad Sutrisno menunjukkan piagam jamu dari Kiringan yang sudah didaftarkan ke UNESCO Foto Setiaky A Kusuma

Muhammad Sutrisno mengungkapkan,  cerita awal mula daerahnya jadi sentra jamu. Bermula pada 1950 lalu ada seorang warga yang bernama Mbah Joparto memulai pertama kali.

Awalnya, merupakan seorang buruh batik di Kota Yogyakarta. Namun, beralih profesi menjadi seorang tukang jamu. Peralihan profesi Mbah Joparto menjadi seorang peramu jamu ketika bertemu seorang Abdi Dalem Keraton Yogyakarta. Namun, hingga saat ini sosok tersebut tidak diketahui para warga di Kiringan. Bahkan namanya sekalipun tidak mengenal.

“Sosok Abdi Dalem itu yang mengajarkan dan menyarankan Mbah Joparto beralih menjadi penjual jamu,” ujarnya.

Dari situlah, semua bermula, Kiringan menjadi terkenal dengan jamu buatannya. Seiring berjalannya waktu, sejumlah tetangga Mbah Joparto ikut menjadi penjual jamu.

Namun, tentunya diajari terlebih dahulu proses pembuatannya. Lambat laun, semakin banyak warga Kiringan yang berminat menjadi penjual jamu. Sekarang, sudah ada 132 perajin jamu di Kiringan. Mayoritas masih melakukan penjualan dengan cara berkeliling.

“Tidak ada yang rebutan pasar,” katanya.

Produk es krim jamu Foto Setiaky A Kusuma

Muhammad Sutrisno juga menjelaskan, jamu yang dijual di Kiringan di antaranya jamu uyup-uyup, beras kencur, pegel linu, watukan.

“Kami juga memodifikasi jamu godok, terus ada permen jamu, boba jamu, terus es krim jamu, dan berbagai macam sirup, serta selai jamu. Selain itu, kami juga menjual jamu pegel linu, kolesterol, sakit gula, kanker liver, dan ambeien. Untuk pemasaran kami sebagian ada yang online tetapi kebanyakan ada yang dijajakan dengan berkeliling,” ujarnya.

Muhammad Sutrisno juga mengungkapkan, jamu Kiringan dan jamu lainnya yang membedakan yaitu, kalau di Kiringan tingkat kekentalan jamunya bisa dua sampai tiga kali lebih kental dari jamu lainnya. Meraciknya juga langsung di depan pembeli dan menggunakan batok kelapa.

”Sedangkan jamu lainnya biasanya dari rumah, sudah dikemas di dalam botol, jadi tidak bisa minta lebih kental lagi,” ungkapnya.

Pria 67 tahun itu pun menyampaikan, saat ini jamu dari Kiringan sudah didaftarkan ke UNESCO. Jika sudah diterima jamu Kiringan akan diakui dunia sehingga lebih mudah untuk ekspor.

Menurutnya, uang yang masuk ke Kiringan omzetnya per hari Rp31,7 juta dari seluruh penjual jamu. Sehingga sangat menunjang perekonomian warga secara mayoritas.

“Namun, tidak seluruhnya memang menjadi penjual jamu,” ungkapnya.

Ayudha, warga Sonosewu, Bantul, mengatakan pertama kali minum jamu karena jamu di Kiringan ada banyak varian.

“Saya suka dengan jamu yang dibuat es krim karena rasanya enak dan bau aroma jamunya tidak terasa sama sekali,” katanya. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *