Mabur.co – Sebagai salah satu Warisan Budaya Takbenda yang telah diakui UNESCO sejak 2023 silam, jamu telah menjadi bagian sejarah bangsa Indonesia sejak ribuan tahun silam, tepatnya sejak abad ke-8 di masa kerajaan Majapahit dan Mataram.
Kini, di zaman yang serba canggih seperti sekarang, melestarikan jamu bisa dibilang butuh pendekatan khusus, sehingga tidak bisa dilakukan dengan metode konvensional.
Selain itu, jamu juga terus berkembang sedemikian rupa sampai hari ini, agar lebih mudah diterima oleh berbagai kalangan dan usia.
Hadirnya Festival Nitilaku Jamu 2026 yang berlangsung di Bale Gadeng, Gondokusuman, Kota Yogyakarta pada Rabu (11/2/2026) lalu menjadi salah satu usaha dari berbagai pihak, terutama para pemerhati dan penjual jamu (UMKM), untuk dapat memperluas keberadaan jamu di kalangan masyarakat.
Ketua Jogja Husada Sehat, Nina Rahayu Purnomo, sebagai pihak yang memiliki concern terhadap perkembangan jamu di Indonesia, mengatakan, bahwa eksistensi jamu untuk saat ini terbilang sudah cukup baik.
Hanya saja masih perlu penyesuaian dalam beberapa aspek, agar esensi utamanya tidak lenyap begitu saja, hanya demi dicap sebagai “minuman kekinian” dan sebagainya.
“Karena anak-anak muda selalu pengin yang praktis. Kemudian konsepnya hanya yang penting minum rempah. Padahal aslinya tidaklah sesederhana itu. Karena membuat jamu itu butuh pelatihan khusus dari ahlinya,” ucap Nina di Bale Gadeng, Rabu (11/2/2026).
Lebih lanjut Nina menambahkan, seiring dengan hadirnya berbagai inovasi minuman kekinian, jamu juga ikut berinovasi dengan menyediakan berbagai varian rasa dan bentuk yang lebih menarik.
Sekaligus menyajikan rasa yang lebih manis, agar bisa diterima oleh seluruh kalangan, tanpa harus menghilangkan khasiat utama dari jamu itu sendiri sebagai minuman kesehatan.
“Sekarang sudah ada jamu yang tersedia dalam berbagai varian, termasuk untuk anak-anak. Rasanya pun tidak pahit seperti yang selama ini dikenal orang,” sambung Nina.
Menurut Nina, masyarakat masih perlu diberi edukasi lebih dalam soal jamu.
Misalnya tentang bagaimana cara menanam tanaman herbal yang ada di rumah. Lalu dikembangkan sedemikian rupa untuk diproduksi.
Minimal kepada lingkungan sekitar, serta tentu saja mendulang manfaat ekonomi dari sana. (*)



