Mabur.co – Jamu adalah minuman tradisional khas Nusantara, yang sudah ada jauh sejak abad ke-8 silam, atau sejak zaman kerajaan Mataram dan Majapahit.
Sebagai minuman yang mengandung bahan-bahan alami dan dipercaya mampu menyehatkan tubuh, pembuatan jamu jelas membutuhkan waktu yang tidak sebentar.
Namun di tengah kemajuan zaman yang serba canggih seperti sekarang, pembuatan jamu juga sudah mulai menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat, yang ingin serba cepat dan instan.
Hanya saja, proses pembuatan jamu tetap membutuhkan waktu yang lebih lama, karena terdiri dari bahan-bahan alami seperti temulawak, jahe, kencur, dan seterusnya.
Seluruh bahan tersebut tidak bisa serta-merta asal dicampur dan diaduk begitu saja, melainkan butuh keterampilan khusus.
Bahkan saking rumitnya, perlu pelatihan atau training khusus, untuk bisa membuat jamu dengan kualitas dan khasiat terbaik.
Berbeda dengan membuat minuman lain macam teh atau susu, yang jelas bisa dibuat oleh siapa saja, tanpa memerlukan keahlian khusus.
Ketua Jogja Husada Sehat, Nina Rahayu Purnomo, saat ditemui di Festival Nitilaku Jamu 2026 yang berlangsung di Bale Gadeng, Rabu (11/2/2026) mengatakan bahwa kecenderungan orang zaman sekarang adalah selalu ingin serba cepat, termasuk dalam pengolahan jamu.
Namun sayangnya, “kodrat” dari pembuatan jamu sendiri memang tidak bisa secepat membuat teh atau susu, karena membutuhkan keahlian khusus, yang tidak bisa dipraktikkan begitu saja.
“Karena membuat jamu itu kan khusus, tidak sama dengan membuat gado-gado atau teh dan jeruk yang gampang banget dilakukan semua orang. Karena membuat jamu itu ada ukurannya tersendiri, dan itu harus melalui training khusus,” ujar Nina.
Hal ini semakin didukung dengan kehadiran kafe-kafe jamu yang tersebar di beberapa daerah di Indonesia.
Nina beranggapan bahwa kafe-kafe jamu tersebut lebih mementingkan estetika visual (untuk kepentingan konten di media sosial), ketimbang memperhatikan esensi utama dari produk jamu yang dijual.
“Karena kafe jamu itu kan sifatnya praktis yah, nggak bisa acaraki-nya (peracik jamu) itu langsung memproses, karena pada dasarnya mereka butuh karyawan, yang harus diberi pelatihan khusus,” sambung Nina.
Meskipun jamu merupakan minuman tradisional yang sudah ada sejak ribuan tahun lalu, Nina merasa bahwa keberadaan jamu masih bisa diterima oleh berbagai kalangan, termasuk generasi muda.
Namun tetap harus mengedepankan ciri khas utama dari jamu itu sendiri, sebagai minuman pencegah berbagai macam penyakit degeneratif. (*)



