Mabur.co – Di era tahun 2015 Indonesia tercatat pernah menjadi salah satu negara pengekspor kakao nomor 3 terbesar di dunia. Yakni dengan hasil produksi mencapai 600-700 ribu ton per tahun.
Sayangnya, sejak beberapa tahun terakhir, jumlah produksi kakao di Indonesia terus merosot drastis. Berdasarkan data The International Cocoa Organization (ICCO), produksi kakao Indonesia pada 2025, bahkan hanya berkisar 200 ribu ton per tahun.
Hal ini tak hanya membuat peringkat Indonesia turun menjadi negara pengekspor kakao ke-7 di dunia. Namun juga membuat Indonesia harus mendatangkan atau mengimpor kakao dari negara lain.
Pada 2024 lalu, Indonesia bahkan tercatat harus mengimpor 150 ribu ton biji kakao dari negara lain untuk memenuhi kebutuhan industri di dalam negeri.
Di wilayah DIY, Kabupaten Kulon Progo sendiri, dikenal sebagai salah satu daerah penghasil kakao. Tak sedikit petani khususnya di wilayah Perbukitan Menoreh menanam kakao, baik itu sebagai komoditas sampingan atau pun komoditas utama.
BPS Kulon Progo mencatat, tingkat produksi kakao di Kabupaten Kulon Progo sejak beberapa tahun terakhir, berkisar antara 1000 hingga 1300 ton per tahun. Namun jumlah ini diperkirakan terus mengalami penurunan jika dibandingkan dengan beberapa tahun silam.
Penurunan ini disebabkan berbagai faktor. Mulai dari semakin berkurangnya minat masyarakat untuk membudidayakan kakao, tidak adanya regenerasi tanaman, hingga banyaknya serangan hama, dan penyakit yang membuat produksi menurun drastis.
Salah seorang petani kakao asal Hargotirto, Kokap, Kulon Progo, Suratman, mengakui menurunnya produksi kakao di wilayah Kulon Progo sejak beberapa tahun terakhir. Termasuk di Desa Hargotirto yang merupakan salah satu sentra penghasil kakao terbesar di Kulon Progo.
Menurut Suratman, jumlah populasi tanaman kakao desanya saat ini telah menurun drastis. Hal itu disebabkan karena banyak warga beralih dari menanam kakao ke tanaman lainnya seperti alpukat atau durian.
“Sekarang jarang sekali yang punya kakao. Banyak yang sudah ditebang dan diganti tanaman lain. Paling hanya satu dua yang masih menanam. Itu pun tanaman yang sudah berusia tua dan tidak dirawat sehingga hasilnya minim,” ungkapnya kepada mabur.co.
Suratman tak menampik, tanaman kakao dulu pernah menjadi komoditas primadona di Kulon Progo. Berbagai program pemerintah digalakkan untuk membudidayakan kakao. Namun hal itu mulai menurun seiring merebaknya penyakit malaria.
“Karena kebun kakao sering dianggap sebagai sarang nyamuk, akhirnya banyak warga yang menebang tanaman mereka. Sehingga jumlahnya menurun drastis,” ungkapnya.
Sementara itu warga yang masih bertahan menanam kakao, juga dihadapkan pada tantangan sulit yakni banyaknya serangan hama dan penyakit yang menyerang.
Mulai dari wabah pengerek batang yang membuat banyak tanaman mati, hingga serangan lalat penghisap buah yang membuat produksi menurun drastis hingga 50 persen lebih.
“Dulu saya bisa menjual kakao hingga satu kuintal lebih setiap 3 bulan sekali. Tapi sekarang paling banyak hanya 25 kilogram,” katanya.
Harga jual komoditas kakao yang tidak stabil dan kerap jatuh juga menjadi alasan para petani enggan menanam kakao. Suratman sendiri menyebut harga jual kakao selama beberapa bulan terakhir ini juga mengalami penurunan drastis mencapai titik terendah.
“Tahun 2025 lalu itu sempat melambung tinggi mencapai Rp90-95 ribu per kilogram. Mungkin karena langka akibat tidak banyak yang menanam. Namun sekarang sudah anjlok lagi. Awal Januari 2026 ini hanya berkisar Rp40ribu per kilogram,” ungkapnya.
Sebagai komoditas yang sangat laku di pasaran, baik nasional maupun internasional, kakao sendiri memiliki potensi luar biasa untuk dikembangkan di Indonesia. Pemerintah melalui Kementerian Pertanian RI, saat ini bahkan tengah mendorong penguatan hilirisasi produk perkebunan. Termasuk kakao guna meningkatkan nilai tambah dan daya saing sektor pertanian nasional.
Berbagai program dan kebijakan terkait budidaya kakao kembali digalakkan. Mulai dari penyediaan bibit unggul, hingga peningkatan produktivitas melalui program revitalisasi lahan berupa penanaman maupun perluasan lahan.
Namun menurut petani kakao seperti Suratman, salah satu tantangan terbesar pemerintah saat ini adalah mampu atau tidaknya memberikan kepastian terkait serapan serta stabilitas harga kakao. Sehingga para petani pun bisa tertarik untuk mau kembali menanam dan mengembangkan kakao.
“Kalau serapannya bisa terus menerus, dan harganya stabil tinggi, tidak tiba-tiba anjlok secara drastis, saya kira banyak yang mau kembali menanam kakao,” pungkasnya. ***



