Mabur.co- Chandra Asri Group mengumumkan kondisi darurat (force majeure) dan menyatakan akan mengurangi tingkat operasional pabrik sebagai langkah antisipasi terhadap gangguan pasokan bahan baku.
Langkah itu diambil karena meningkatnya eskalasi konflik di Iran dan penutupan Selat Hormuz yang mulai berdampak ke industri petrokimia.
Direktur Sumber Daya Manusia & Urusan Korporat, Suryandi mengaku, ketegangan konflik antarnegara yang masih berlangsung saat ini berdampak pada kelancaran distribusi bahan baku dalam rantai pasok.
“Perusahaan telah menyampaikan pemberitahuan force majeure kepada mitra usaha sesuai ketentuan kontraktual yang berlaku,” ujarnya dilansir CNBC Indonesia, Rabu (4/3/2026).
Ia menjelaskan, penyampaian ini merupakan langkah administratif yang dilakukan secara terukur, berdasarkan kajian menyeluruh atas potensi implikasi terhadap pemenuhan kewajiban kepada pelanggan, serta sebagai bentuk transparansi kepada seluruh pemangku kepentingan.
“Kami secara aktif memantau perkembangan situasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang terus berkembang, dan mengambil langkah antisipatif untuk memastikan ketahanan operasional di seluruh unit bisnis kami,” ungkapnya. ***



