Simbol Ketangguhan, Gunung Everest Sembilan Kilometer di Atas Permukaan Laut - Mabur.co

Simbol Ketangguhan, Gunung Everest Sembilan Kilometer di Atas Permukaan Laut

Mabur.co- Pernah membayangkan bahwa tempat tertinggi di dunia yang selama ini kita kenal sebagai simbol ketangguhan, penaklukan, dan ambisi manusia sebenarnya menyimpan masa lalu yang berlawanan total dengan citra tersebut? 

Gunung Everest dengan ketinggian hampir sembilan kilometer di atas permukaan laut, ternyata lahir dari sesuatu yang jauh lebih sunyi dan basah, yakni dasar samudra yang purba.

Bukan metafora, bukan pula mitos. Fakta ini adalah hasil pembacaan ilmiah terhadap batuan, fosil, dan pergerakan lempeng tektonik selama ratusan juta tahun.

Everest bukan hanya gunung, tetapi arsip geologi hidup, di mana Bumi menyimpan ingatan masa lalunya, ketika daratan belum seperti yang kita pijak.

Gunung ini mendapatkan nama bahasa Inggris dari nama Sir George Everest. Nama ini diberikan oleh Sir Andrew Waugh, kepala juru ukur India berkebangsaan Inggris, penerus Everest.

Puncak Everest merupakan salah satu dari tujuh puncak benua tertinggi di dunia.

Puncak Gunung Everest sebagian besar terdiri dari batu kapur yang berasal dari fosil laut dan sedimen yang dulu terkumpul di dasar lautan.

Gunung Everest terbentuk melalui proses tektonik di mana lempeng-lempeng bumi bertabrakan, mendorong dasar laut ke atas hingga membentuk puncak tertinggi di dunia saat ini.

Dilansir dari Ace the Himalaya, Senin (9/3/2026),  penemu yang pertama kali menemukan adanya batuan kapur di Gunung Everest adalah ahli geologi Noel Ewart Odell.

Dia menemukan banyak sampel batu kapur di sekitar puncak Everest, yang merupakan batuan sedimen yang terbentuk di perairan hangat dari cangkang, koral, dan sisa organik lainnya.

Batuan kapur ini dikenal sebagai “Batu Kapur Qomolangma” yang berasal dari Periode Ordovisium, sekitar 488,3 juta hingga 443,7 juta tahun lalu.

Di dalamnya ditemukan fosil makhluk laut purba seperti trilobita, brakiopoda, ostracod, dan crinoid. Puncak Everest dulu adalah dasar laut dan terbentuk dari batu kapur laut yang kini memiliki fosil makhluk laut seperti trilobita.

Proses geologi yang melibatkan tumbukan lempeng benua India dengan lempeng Eurasia secara perlahan mengangkat dasar laut ini menjadi pegunungan tertinggi di dunia melalui pergerakan lempeng tektonik selama jutaan tahun.

Kehidupan laut yang kaya di lautan ini meninggalkan sisa-sisa cangkang invertebrata laut, seperti trilobita dan brakiopoda, yang seiring waktu berubah menjadi lapisan-lapisan batu kapur, yang dikenal sebagai Batu Kapur Qomolangma oleh para geolog.

Sekitar 50-470 juta tahun yang lalu, lempeng India mulai bergerak ke utara dan menabrak lempeng Eurasia.

Tumbukan tersebut menyebabkan dasar laut yang awalnya berada di bawah air, tertekan, dan terangkat ke atas.

Panas dan tekanan dari tumbukan lempeng tektonik mengubah batu kapur asli menjadi batuan metamorf tingkat rendah, yang masih menjadi komponen utama puncak Everest. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *