Konflik Timur Tengah, Harga Gorengan Naik - Mabur.co

Konflik Timur Tengah, Harga Gorengan Naik

Mabur.co- Harga minyak dunia kembali naik pada Kamis (12/3/2026) setelah pasar menyoroti gangguan pasokan akibat perang Iran yang terus meluas.

Rencana pelepasan cadangan minyak darurat dalam jumlah besar belum mampu meredakan kekhawatiran pasar energi global.

Mengutip Bloomberg, harga minyak acuan Brent sempat melonjak hingga 7,9 persen ke level 99,24 dollar AS per barel.

Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan mendekati 94 dollar AS per barel. Lonjakan harga terjadi karena jalur pelayaran strategis Selat Hormuz masih praktis tertutup.

Kondisi ini memaksa sejumlah produsen utama di kawasan Teluk memangkas produksi minyak secara signifikan.

Meski harga bahan pokok terus merangkak naik, harga gorengan di banyak daerah masih bisa bertahan di kisaran Rp2.000 hingga Rp3.000 per potong.

Fenomena ini memperlihatkan bagaimana pedagang kecil beradaptasi di tengah tekanan biaya produksi tanpa membuat konsumen lari

Gorengan masih menjadi makanan rakyat paling terjangkau di Indonesia. Dari tahu isi, pisang goreng, bakwan, hingga tempe mendoan, semuanya tetap hadir di etalase pedagang kaki lima dengan harga yang relatif stabil.

Namun di balik harga yang “ramah kantong”, ada strategi ekonomi mikro yang dijalankan secara cermat oleh pelaku usaha kecil.

Salah satu pedagang gorengan yang biasa berjualan di daerah Gedungkuning, Ngatijo mengatakan, para pedagang menyadari bahwa gorengan punya nilai psikologis di mata pembeli.

Naik sedikit saja bisa membuat konsumen menahan diri. Karena itu, mereka lebih memilih menyesuaikan ukuran dan bahan ketimbang menaikkan harga.

“Strategi ini membuat harga tetap terlihat murah meski nilai sebenarnya sudah berubah,” ucapnya, Minggu (15/3/2026).

Ngatijo menuturkan, ukuran gorengan kini memang cenderung lebih kecil. Potongan tahu tak sebesar dulu, bakwan lebih tipis, dan pisang goreng sering dibelah dua.

“Dalam dunia ekonomi, langkah ini disebut shrinkflation, yaitu harga tetap, tapi ukuran atau kualitas menurun. Tujuannya agar pedagang bisa tetap bersaing tanpa mengorbankan omzet,” ucapnya.

Ngatijo mengatakan, sekarang beralih ke bahan baku alternatif yang lebih hemat. Minyak curah menggantikan minyak kemasan, tepung terigu dicampur dengan tapioka, dan sayur isi diganti dengan bahan lokal yang lebih murah.

“Dengan efisiensi seperti ini, biaya produksi bisa ditekan tanpa mengubah rasa secara drastis,” katanya. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *