Warga Banjarnegara Ciptakan Gula Singkong Cair, Solusi Alternatif Penuhi Kebutuhan Gula Nasional - Mabur.co

Warga Banjarnegara Ciptakan Gula Singkong Cair, Solusi Alternatif Penuhi Kebutuhan Gula Nasional 

Mabur.co – Seorang warga asal Banjarnegara, Jawa Tengah, berhasil membuat inovasi produk alternatif pengganti gula berbahan singkong. Selain diklaim lebih sehat dan rendah kalori, gula singkong cair ini juga dinilai dapat menjadi solusi mengatasi rendahnya produksi guna nasional serta tingginya impor gula saat ini.

Adalah Johan Irawan, warga Desa Punggelan, Kecamatan Punggelan, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah sosok inspiratif tersebut. Di tangan Johan, singkong yang selama ini dikenal sebagai bahan pangan bernilai jual rendah, mampu ia sulap menjadi komoditas bernilai jual tinggi. 

Siapa sangka hasil inovasi tersebut banyak diminati berbagai kalangan baik untuk dikonsumsi sendiri maupun sebagai alternatif pemanis alami untuk berbagai industri. 

Dikutip RMol, Rabu (29/4/2026), produk gula cair singkong buatan Johan telah dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia. Seperti Kalimantan Timur, Riau, Lampung, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Tengah.

Saat ini Johan bahkan mampu memproduksi hingga 3 sampai 4 ton gula singkong cair setiap bulannya. Pesanan paling banyak berasal dari Kalimantan Timur, terutama di Tenggarong, karena digunakan sebagai bahan baku pembuatan sirup. 

Johan menjelaskan, bahan utama yang digunakan untuk membuat gula singkong cair ini adalah tapioka dari singkong. Proses pengolahannya melalui dua tahap, yakni likuifikasi dan sakarifikasi.

Berdasarkan hasil uji nilai gizi, dalam takaran saji 15 gram, gula singkong cair ini mengandung energi total sebesar 50 kilokalori, dengan 0 gram lemak dan protein. 

Sementara kandungan karbohidrat dalam gula cair ini total tercatat 12 gram, termasuk gula sebesar 6 gram, serta natrium sebesar 4 miligram.

Karena kandungan itulah, gula singkong cair ini diklaim memiliki tingkat kemanisan hingga dua kali lipat dibandingkan gula biasa. Meski demikian, pemanis ini tidak mengubah aroma maupun cita rasa asli makanan dan minuman.

“Gula singkong cair ini lebih sehat karena alami dan relatif rendah kalori, serta tidak menimbulkan efek samping yang merugikan. Sangat cocok untuk berbagai olahan kuliner tanpa merusak cita rasa aslinya,” ujarnya.

Adanya produk gula singkong cair ini tentu dapat menjadi alternatif bahan pengganti gula. Mengingat rendahnya produksi gula nasional saat ini yang masih belum mencukupi kebutuhan di dalam negeri.

Bahkan pemerintah secara rutin masih harus mengimpor gula dari luar negri. Sepanjang tahun 2025 lalu saja, Indonesia tercatat harus mengimpor 3,93 juta ton gula dari Thailand, Brasil, Australia, dan India untuk mencukupi kebutuhan nasional mencapai 6,7 juta ton. Yang terdiri dari 2,8 juta ton gula konsumsi dan 3,9 juta ton gula industri. 

Minimnya pasokan tebu dari petani akibat semakin berkurangnya lahan tebu selama ini juga membuat banyak pabrik gula di berbagai daerah tutup. Dimana saat ini Indonesia hanya memiliki sekitar 59 hingga 62 pabrik gula yang aktif beroperasi mengolah tebu menjadi Gula Kristal Putih (GKP), dengan konsentrasi terbesar berada di Jawa Timur. 

Industri ini tercatat didominasi oleh BUMN (sekitar 40 pabrik) dan sisanya swasta, dengan mayoritas mesin pabrik berusia di atas 100 tahun sehingga tidak efektif dan efisien dalam produksinya. 

Karena itulah keberadaan gula singkong cair ini dinilai dapat menjadi solusi. Terlebih singkong bisa ditanam di berbagai kondisi lahan. Mulai dari lahan berbatu, dataran tinggi, tegalan, hingga sampai lahan kering atau minim air. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *