Mabur.co– Gamelan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan Keraton Yogyakarta.
Gamelan menjadi benda pusaka Kagungan Dalem atau milik raja.
Masyarakat Jawa menyebut ansambel tradisional ini sebagai gangsa yang merupakan jarwa dhosok (akronim) dari tiga sedasa (tiga dan sepuluh).
Dalam rangka memperingati upacara Grebeg Sawal (Hari Raya Idulfitri), Kadipaten Pakualaman menggelar upacara Miyos Gangsa.
Ini merupakan salah satu upacara di dalam rangkaian persiapan penyelenggaraan upacara Grebeg Sawal (Hari Raya Idulfitri) di Pura Pakualaman.
Miyos Gangsa, yang berarti “keluarnya gamelan”, merefleksikan warisan dakwah Islam masa Wali Songo.
Kala itu, gamelan dijadikan media syiar karena bunyinya mampu mengundang masyarakat berkumpul di Masjid Agung, sehingga dakwah dapat disampaikan dengan cara halus dan penuh kearifan.
Hingga kini, makna spiritual dan kultural itu tetap dijaga.
Dikutip dari akun Instagram purapakualaman, Selasa (24/3/2026) di dalam upacara ini, Kagungan Dalem Gangsa Pusaka Pakurmatan Sekaten Alit yaitu Kiai Kombang Tawang dan Nyai Madu Sedana, serta Gangsa Pusaka Carabalen dikeluarkan dari ruang penyimpanan gamelan menuju tempat digelarnya gending-gending Pakurmatan Pakualaman pada prosesi Tampi Pareden Grebeg Sawal.
Prosesi ini diawali dengan caos sesaji dan doa oleh Abdi Dalem Suranggama pada masing-masing gangsa pusaka, dan dilanjutkan dengan pemindahan setiap ricikan gangsa yang dilaksanakan oleh Abdi Dalem Narakarya dan Langenpraja, Pura Pakualaman. ***



