Kerap Diburu, Burung Ruak-ruak Didorong Jadi Sajian Kuliner - Mabur.co

Kerap Diburu, Burung Ruak-ruak Didorong Jadi Sajian Kuliner

Mabur.co – Burung Kareo Padi atau Ruak-Ruak (Amaurornis phoenicurus) selama ini mungkin hanya dikenal sebagai hewan liar yang banyak ditemui di rawa-rawa atau persawahan. 

Namun siapa sangka, burung mirip kuntul ini ternyata memiliki daging enak dan kandungan nutrisi baik sehingga kerap dijadikan sebagai sebagai sajian kuliner. 

Bahkan di Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara, daging burung ruak-ruak telah diolah menjadi makanan legendaris yang banyak diburu masyarakat maupun wisatawan. 

Tak heran burung ruak-ruak pun kerap diburu dan dijual dagingnya karena memiliki nilai ekonomi cukup tinggi.

Guna meminimalisir penangkapan liar serta menjaga populasi di alam, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pun mendorong agar burung ruak-ruak dijadikan unggas produksi baru di Indonesia. 

Kepala Pusat Riset Zoologi Terapan (PRZT) BRIN, Delicia Y. Rahman, mengatakan upaya domestikasi burung ruak-ruak diharapkan dapat membuka peluang pengembangan unggas alternatif, sebagaimana keberhasilan domestikasi burung puyuh yang kini telah berkembang luas.

“Kita sedang melihat bagaimana potensi burung ruak-ruak ini untuk dijadikan sebagai panggung riset domestikasi baru. Riset ini sejalan dengan apa yang dikerjakan oleh rekan-rekan di kelompok riset domestikasi hewan tropis,” terang Delicia sebagaimana dikutip dari website resmi BRIN, Selasa (12/5/2026).

Menurut Delicia, forum Zoopedia yang diselenggarakan untuk mempertemukan peneliti internal BRIN dengan para pakar dari berbagai institusi telah mendorong riset domestikasi hewan tropis di Indonesia yang memiliki daya saing di tingkat internasional.

Dalam forum tersebut, peneliti PRZT BRIN, Widya Pintaka Bayu Putra, memaparkan potensi burung kareo padi sebagai sumber produksi daging di Indonesia.

Menurut Bayu, burung kareo padi merupakan spesies burung air yang cukup mudah dijumpai di ekosistem lahan basah Indonesia. Meski kerap hidup di sekitar aktivitas manusia, burung ini memiliki karakteristik biologis yang dinilai menarik untuk diteliti lebih jauh.

“Meski sering terlihat di sekitar manusia, burung ini memiliki karakteristik unik baik dari segi reproduksi maupun kandungan nutrisinya,” terangnya.

Selain memiliki masa reproduksi yang cukup panjang yakni berlangsung antara April hingga Oktober, burung ruak-ruak juga mampu menghasilkan telur 2-6 butir sehingga potensial untuk didomestifikasi.

“Burung ini biasanya membangun sarangnya di atas pohon. Sedangkan, jumlah telur dapat menghasilkan 2 sampai 6 butir telur. Telur tersebut akan dierami selama kurang lebih 19 hingga 21 hari hingga menetas,” jelasnya.

Tak hanya itu burung ruak-ruak juga dikenal mampu beradaptasi dengan baik di kawasan perairan. Dimana habitatnya tersebar luas mulai dari rawa, tepian sungai, hingga area persawahan.

Secara global, populasi burung ini juga bisa ditemukan di berbagai wilayah Asia Selatan dan Asia Timur, seperti Pakistan, India, Sri Lanka, Tiongkok Timur, Taiwan, Jepang, hingga kawasan kepulauan seperti Filipina, Sunda Besar, Pulau Christmas, dan Mikronesia.

Karena itulah burung ruak-ruak memiliki peluang untuk didomestikasi. Tidak hanya untul kepentingan sisi konservasi dan ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai alternatif pengembangan pangan berbasis unggas lokal.

Melalui forum semacam inilah, diharapkan riset domestikasi hewan tropis di Indonesia semakin berkembang dan mampu menghasilkan inovasi baru yang bermanfaat bagi ilmu pengetahuan maupun ketahanan pangan nasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *