Mengenang Peran Pers dalam Tragedi Trisakti 1998 - Mabur.co

Mengenang Peran Pers dalam Tragedi Trisakti 1998 

Mabur.co – Hari ini 28 tahun silam, peristiwa berdarah dalam sejarah reformasi Indonesia terjadi. Peristiwa yang dikenal dengan Tragedi Trisakti ini terjadi pada 12 Mei 1998. 

Sebanyak 4 mahasiswa Universitas Trisakti tewas usai ditembak aparat saat sedang melakukan aksi demonstrasi menuntut mundurnya Presiden Soeharto yang telah 32 tahun berkuasa.

Tragedi Trisakti dikenal sebagai salah satu tonggak penting dalam sejarah gerakan mahasiswa selama proses reformasi. Dimana peristiwa ini menjadi martir lahirnya gerakan mahasiswa yang lebih besar hingga berhasil menurunkan Soeharto.

Dan salah satu yang tak bisa dilupakan dari keberhasilan proses ini adalah peran pers dan media yang tak mau lagi dikekang pemerintah untuk menyuarakan apa yang sebenarnya terjadi.

Tahun 1997 Indonesia memang sedang dilanda krisis ekonomi parah. Harga kebutuhan pokok melonjak, sementara nilai rupiah terus melemah.

Hal ini membuat posisi pemerintahan Presiden Soeharto semakin melemah. Berbagai kalangan masyarakat yang dimotori mahasiswa menuntut Soeharto segera turun dari kekuasaannya.

Hal itu pulalah yang dilakukan sejumlah mahasiswa Universitas Trisakti. Mereka ikut turun ke jalan untuk menyuarakan reformasi demi lahirnya perubahan yang lebih baik. 

Awalnya mahasiswa Trisakti melakukan aksi damai di sekitar kampus pada sore hari. Aksi terus berlanjut hingga malam hari. Mereka dicegah aparat saat hendak menuju gedung DPR/MPR. 

Rombongan mahasiswa pun akhirnya mundur ke dalam lingkungan kampus. Namun di saat itulah peristiwa naas terjadi. Aparat yang berusaha membubarkan massa demonstran melakukan aksi brutal dengan menembak pada mahasiswa.

Akibatnya 4 mahasiswa dilaporkan tewas di dalam kampus setelah terkena peluru tajam di area vital seperti kepala, tenggorokan, dan dada. Mereka yang tewas adalah Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie. 

Keesokan harinya, hampir semua media nasional memberitakan peristiwa penembakan ini di halaman depan dan rubrik utama. Pers seolah tak takut lagi dengan upaya pengekangan yang dilakukan rezim Soeharto dengan membredel sejumlah media besar seperti sebelumnya.

Berkat pemberitaan inilah masyarakat maupun mahasiswa di berbagai daerah semakin geram dan marah dengan sikap pemerintah, hingga memunculkan gelombang demonstrasi yang lebih besar dan meluas.

Meski setelah peristiwa itu beberapa kerusuhan besar kembali terjadi, tekanan publik yang terus meningkat akhirnya membuat Presiden Soeharto mengundurkan diri pada 21 Mei 1998 dan menandai dimulainya era reformasi.

Peran pers dalam menopang lahirnya reformasi tak hanya berhenti sampai di situ. Berbagai media nasional terus memberitakan temuan dan fakta di lapangan terkait tragedi penembakan Trisakti, guna menuntut pihak-pihak yang terlibat segera diadili.

Memang pasca peristiwa itu pemerintah sempat membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) untuk menyelidiki penembakan ini. Bahkan Komnas HAM juga telah menyimpulkan bahwa peristiwa Trisakti merupakan sebuah pelanggaran HAM berat. 

Namun hingga saat ini pengungkapan tragedi Trisakti tak pernah berjalan tuntas. Sebanyak 11 anggota Polisi memang sempat diadili dan dianggap sebagai pelaku penembakan ini. Namun siapa dalang di balik tragedi Trisakti tak pernah diketahui dan masih misterius hingga saat ini.

Setiap tahun setelah peristiwa berdarah itu, pers juga terus konsisten memberitakan berbagi aksi yang menuntut pengungkapan kasus ini. Baik itu oleh pihak keluarga, rekan mahasiswa, aktivis HAM maupun komponen masyarakat sipil lainnya.

Namun sepertinya seberapapun sering pemberitaan media dan insan pers dilakukan, tanpa adanya komitmen dan keseriusan dari pemerintah, pengungkapan aktor intelektual kasus penembakan 4 mahasiswa Trisakti 28 tahun silam mustahil terjadi. (Berbagai Sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *