Mabur.co– Kemegahan dan keagungan Kerajaan Mataram sampai kini masih bisa disaksikan melalui beragam prasasti yang ditinggalkan.
Masjid Gedhe Mataram Kotagede merupakan masjid tua di Yogyakarta yang menjadi peninggalan Kerajaan Mataram Islam.
Masjid ini dikenal sebagai bangunan bersejarah dengan arsitektur Jawa kuno yang kental serta akulturasi budaya Jawa, Hindu-Buddha, dan Islam.
Letaknya yang menyatu dengan kompleks makam raja-raja Mataram, seperti Panembahan Senopati, menjadikan Masjid Gedhe Mataram sebagai pusat wisata religi yang sakral. Ramai dikunjungi peziarah maupun wisatawan untuk beribadah serta melakukan napak tilas sejarah.
Keunikan Masjid Gedhe Mataram terletak pada arsitekturnya yang mencerminkan akulturasi budaya Jawa, Islam, dan Hindu-Buddha.
Hal tersebut dapat dilihat dari atap tajug bertingkat khas Jawa, gerbang dan pagar yang menyerupai candi atau paduraksa, serta berbagai elemen filosofis yang terdapat di dalamnya.
Beberapa di antaranya adalah tiang kayu yang dikaitkan dengan Sultan Agung dan tiang besi yang dikaitkan dengan Pakubuwono X, bedug kuno peninggalan Sunan Kalijaga, serta tata ruang masjid yang mencerminkan konsep kosmologi Jawa.
Dilansir mabur.co dari akun Instagram sejarahyogya, Selasa (23/3/2026), di dalam masjid terdapat sebuah mimbar khotbah.
Konon dari abad 16 yang masih bertahan walaupun telah berusia mendekati 450 tahun, berbahan kayu jati, dengan motif sulur ukir. Menurut cerita merupakan pemberian Datuk Palembang yang juga dimakamkan di situ.
Berdasar Babad Momana, Masjid Gedhe dibangun Panembahan Senopati pada 1511 Taun Dal (1589 Masehi) setelah diubah dari langgar (oleh Ki Ageng Pemanahan, ayahnya) menjadi Masjid Negara. Bangunan langgar lama kemudian dijadikan bahan bangunan cungkup makam di sebelah selatan masjid.
Sultan Agung walaupun telah pindah ke Kerta juga menambah serambi Masjid Gedhe Mataram ini. Jadi itu salah satu sebab masjid ini bertahan, karena raja-raja selanjutnya selalu merawat.
Setelah Perjanjian Giyanti, Masjid Gedhe Mataram dibagi 2, setiap kerajaan menempatkan 12 pegawai untuk mengurusi. Jadi total ada 24 orang.
Penambahan kedua selanjutnya pada 1796, serambi timur oleh Pakubuwono IV. Sesuai perjanjian untuk perawatan dan perbaikan dilakukan oleh kedua kerajaan melalui 2 “dhawuh Kutha Gedhe” setingkat panewu.
Penambahan emperan, pawudhon kakung serta penggantian atap sirap dilakukan Persyarikatan Muhammadiyah. Sedangkan pada 1926 Pakubuwono X membangun tugu.
Setelah NKRI, seluruh perubahan dan penambahan dilakukan melalui Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta pada 1995, 1997, dan 2015.



