Mabur.co- Setiap tahun, manusia di seluruh dunia menantikan momen penting yang menandai perubahan musim, yaitu ekuinoks Maret.
Pada saat yang sama, langit malam mempersembahkan pemandangan menakjubkan berupa bulan purnama berwarna merah jambu, yang dikenal dengan sebutan “Pink Moon“.
Kedua peristiwa astronomi ini tidak hanya menarik bagi para pengamat bintang, tetapi juga memiliki signifikansi budaya, ilmiah, dan ekologis yang luas.
Fenomena bulan purnama yang dikenal sebagai Pink Moon akan menghiasi langit pada awal April. Meski namanya terdengar unik, fenomena ini bukan berarti bulan akan berwarna merah muda, melainkan merujuk pada tradisi penamaan musim semi di Amerika Utara.
Secara astronomi, fase purnama ini terjadi saat bulan berada tepat berseberangan dengan Matahari dan tampak sepenuhnya terang dari Bumi.
Dikutip dari Space.com, Rabu (25/3/2026), berdasarkan data astronomi, puncak Pink Moon terjadi pada 1 April 2026 pukul 22:12 EDT waktu New York.
Jika dikonversi ke Indonesia, waktunya menjadi 2 April 2026 pukul 09:12 WIB, sehingga secara teknis momen bulan purnama penuh menjadi tidak ideal untuk diamati langsung.
Dalam astronomi, bulan tampak purnama selama sekitar satu hari sebelum dan sesudah momen puncak. Dengan demikian, masyarakat di Indonesia tetap dapat melihat cakram bulan yang terang antara malam pada 1 April dan 2 April.
Penamaan bulan purnama pada awal April ini merupakan branding musiman, bukan fenomena optik. Bulan purnama pada awal April juga memiliki peran penting dalam penentuan Hari Raya Paskah.
Dalam tradisi barat, tanggal Paskah ditetapkan sebagai minggu pertama setelah Bulan Purnama pertama pasca-ekuinoks musim semi.
Tahun ini, Paskah jatuh pada 5 April yang berarti hanya beberapa hari setelah puncak Pink Moon.
Pink Moon muncul saat bulan berada di konstelasi Virgo dan berada tepat berseberangan dengan Matahari. Pada momen ini, wajah bulan yang menghadap Bumi tampak bulat penuh dan terang sepanjang malam.



