Sering Begadang? Awas Durasi Tidur Pendek, Punya Banyak Risiko Kesehatan - Mabur.co

Sering Begadang? Awas Durasi Tidur Pendek, Punya Banyak Risiko Kesehatan

Mabur.co– Pukul satu dini hari. Layar masih terang. Jari masih menggulir. Ada tugas yang “tinggal sedikit”, ada kerjaan yang “tanggung kalau ditinggal”, ada hiburan yang “satu episode lagi”.

Begadang terasa seperti cara mencuri waktu tambahan dari hari yang terlalu sempit.

Masalahnya, tubuh tidak membaca jam seperti kita. Tubuh membaca ritme.

Di pusat otak, ada “dirijen” kecil bernama suprachiasmatic nucleus (SCN) di hipotalamus.

SCN mengatur ritme sirkadian 24 jam: kapan kita mengantuk, kapan hormon dilepas, kapan suhu tubuh turun, kapan sel memperbaiki diri, kapan sistem imun siaga, kapan metabolisme disetel ulang.

Begadang membuat dirijen ini kehilangan orkestranya.

Tubuh seperti dipaksa bekerja di zona waktu yang salah, berulang-ulang.

Ketika ritme kacau, dampaknya bukan cuma “ngantuk besok”. Dampaknya menjalar sampai level gen, molekul, dan jaringan.

Begadang sering dianggap sebagai kebiasaan tidak sehat, terutama di kalangan anak muda.

Kebiasaan tidur larut malam ini memiliki banyak risiko kesehatan, mulai dari depresi, diabetes, tekanan darah tinggi, hingga gangguan organ vital.

Alasan orang begadang pun beragam, seperti tuntutan pekerjaan, menonton film, hingga aktivitas hiburan lainnya.

Mengutip Health, Rabu (1/4/2026), penelitian menunjukkan bahwa mereka yang sering begadang berisiko lebih tinggi mengalami masalah kesehatan serius.

Salah satu yang perlu diwaspadai adalah dampaknya terhadap kesehatan hati atau liver.

Instruktur yoga, Milanda Soenarto, melalui akun TikTok @milanda228 menjelaskan, tidur lewat pukul 11 malam dapat membahayakan organ hati.

“Usahakan jangan tidur lebih dari jam 11 malam, karena dari jam 11 malam hingga jam 1 pagi, organ liver atau hati kita lagi bertugas bersih-bersih,” ujarnya, dikutip Rabu.

Milanda menerangkan bahwa hati memiliki lebih dari 500 fungsi, salah satunya detoksifikasi atau pembersihan racun dalam tubuh.

“Jika seseorang tidur terlalu larut, proses ini tidak berjalan optimal sehingga memengaruhi metabolisme tubuh,” ucapnya.

Dilansir dari Journal of the American Heart Association pada Januari 2026, para peneliti meneliti lebih dari 322.000 orang dewasa di Inggris.

Para peneliti mengikuti kondisi kesehatan mereka selama hampir 14 tahun.

Dalam penelitian ini, peserta dikelompokkan berdasarkan kebiasaan tidur, mulai dari tipe pagi, tipe tengah, hingga tipe malam atau orang yang cenderung begadang.

Kesehatan jantung mereka dinilai menggunakan standar American Heart Association yang mencakup delapan faktor, seperti kebiasaan merokok, aktivitas fisik, pola makan, kadar gula darah, tekanan darah, dan kualitas tidur.

Hasilnya menunjukkan bahwa orang yang termasuk tipe malam memiliki kemungkinan hampir 80 persen lebih tinggi mengalami kondisi kesehatan jantung yang buruk dibandingkan kelompok dengan jam tidur menengah.

Kelompok ini juga tercatat memiliki risiko sekitar 16 persen lebih tinggi mengalami serangan jantung atau stroke.

Sementara itu, Mengutip dari Live Science, peneliti utama studi tersebut, Sina Kianersi, menjelaskan bahwa risiko jantung pada kelompok begadang sebagian besar dipengaruhi oleh gaya hidup.

Sekitar 75 persen peningkatan risiko diketahui berkaitan dengan kebiasaan sehari-hari, bukan semata-mata jam tidur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *