Hastha Brata: Ilmu Kepemimpinan bagi Pemimpin - Mabur.co

Hastha Brata: Ilmu Kepemimpinan bagi Pemimpin

MAYORITAS masyarakat Jawa, tentu, sudah tak asing dengan istilah ‘Ilmu Hastha Brata’ yang disosialisasikan dalam pewayangan.

Itulah salah satu dari model atau tipe kepemimpinan Jawa terutama yang diceritakan dalam pewayangan.

‘Ilmu Hastha Brata’ digambarkan dalam pewayangan bahwa dengan ilmu tersebut dapat mengantarkan kesuksesan dua orang Raja besar titisan Bathara Wisnu—yakni Sri Rama Wijaya (Raja Ayodya) dan Sri Bathara Kresna (Raja Dwarawati)—dalam memimpin negara.

‘Ilmu Hastha Brata’ adalah ilmu tentang kepemimpinan, yakni dengan meneladani 8 (delapan) unsur perwatakan alam yang telah dimiliki oleh Raja besar yang adil, berwibawa, arif dan bijaksana; yakni Prabu Rama Wijaya dan Sri Bathara Kresna. Bila Prabu Rama Wijaya kemudian memberikan wejangan ‘Ilmu Hastha Brata’ kepada saudaranya Prabu Bharata dan Raden Wibisana, sedang Prabu Kresna memberikan wejangan kepada Raden Arjuna.

Lantas, bagaimana rahasia ilmu kenegaraan itu? Dan, bagaimana pula kandungan ‘Ilmu Hastha Brata’ hingga membawa kesuksesan bagi Prabu Rama Wijaya dan Prabu Kresna?

‘Ilmu Hastha Brata’ adalah meneladani perwatakan 8 (delapan) unsur alam semesta dalam kehidupannya sehari-hari, sebagai berikut:

Pertama, hambeging kisma (wataknya bumi) yang maknanya kaya, suka berderma, kaya hati (lembah manah, legawa). Seorang pemimpin yang meneladani watak bumi, niscaya dia akan senantiasa memperhatikan nasib rakyat kecil yang menderita dan dilanda kemiskinan.

Apalagi di negara kita telah terjadi ketimpangan sosial yang sangat parah, bayangkan 1 orang kaya setara dengan 40 juta orang. Maka peran pemimpin yang meneladani watak bumi, ia akan berusaha meningkatkan taraf hidup rakyat atau meningkatkan kesejahteraan mereka.

Kedua, hambeging tirta (wataknya air) yang maknanya selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah dan selalu bersikap andhap asor anoraga atau rendah hati dalam kehidupan sehari-hari. Ia tidak bersikap congkak dan sombong di hadapan rakyatnya, bahkan kepada siapapun jua.

Ketiga, hambeging samirana (wataknya angin) yaitu selalu meneliti dan menelusup ke mana-mana, sehingga benar-benar mengetahui secara persis persoalan-persoalan yang ada di masyarakat: bukan hanya sekedar apa yang diinformasikan oleh ajudannya atau apa yang kata orang belaka lewat berita medsos.

Kejeliannya dalam meneliti segala persoalan tadi akhirnya dia berhasil mengetahui data-data di lapangan dengan valid dan akurat. Dampak positifnya adalah menjadi orang yang terpercaya dan dapat dipegang kata-katanya.

Keempat, hambeging samodra (wataknya lautan) yang maknanya luas hatinya dan siap menerima keluhan atau menampung beban rakyatnya tanpa perasaan keluh-kesah. Setelah itu, tentu ia berusaha untuk mencari jalan keluar terhadap semua persoalan yang tengah dihadapi oleh rakyatnya melalui kebijakan yang akan diputuskannya.

Kelima, hambeging candra (wataknya bulan) yakni selalu memberi pepadhang (penerangan) kepada siapapun saja dan menggambarkan nuansa keindahan religius-spiritual yang mengarah untuk senantiasa ber-musyahadah (mengingat Allah) kepada kebesaran dan keindahan Tuhan.

Keenam, hambeging surya (wataknya matahari) yang maknanya memberikan daya, energi, kekuatan atau power kepada orang lain. Selain itu, ‘perjalanan’ matahari sejak terbit di sebelah timur hingga terbenam di sebelah barat menunjukkan suatu perjalanan yang istiqamah (bersifat ajeg, konsisten).

Dalam Bahasa Jawanya disebut alon maton (tetap). Sebagaimana disebutkan dalam bahasan awal, dalam konteks keilmuan yang diambil dari ayat-ayat alam, matahari melambangkan rahmat Tuhan, rembulan melambangkan pemimpin, dan bumi adalah rakyat.

Ketika terjadi gerhana matahari—bumi gelap karena sinar matahari tertutup bulan—ilustrasi maknanya adalah pemimpin (bulan) sedang mengalami kegelapan; akibatnya rakyat (bumi) pun juga menjadi gelap.

Dan, peristiwa gerhana matahari itu pernah terjadi pada zaman pemerintahan Orde Baru dulu, sedangkan gerhana bulan dua kali terjadi di zaman ketika KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) berkuasa.

Ketujuh, hambeging dahana (wataknya api) yang selalu mampu menyelesaikan masalah dengan adil serta tidak membeda-bedakan antara yang satu dengan yang lainnya (tan pilih kasih).

Wataknya api dalam konteks ‘Ilmu Hastha Brata’ lebih khususnya penegakan hukum secara adil dan tidak pandang bulu; tidak seperti yang sering terjadi pada masa kini yang tumpul ke atas dan tajam ke bawah.

Kedelapan, hambeging kartika (wataknya bintang); yakni menggambarkan kepribadian, maqam atau posisi, bahkan cita-cita yang tinggi, kokoh dan bersifat tetap seperti bintang yang berada di langit.

Ungkapan menjadi ‘bintang kelas’, misalnya, hal itu diambil dari filosofi hambeging kartika ini. Begitu pula dengan pangkat yang tinggi dalam kemiliteran pun juga dilambangkan dengan tanda ‘bintang’, termasuk ‘bintang film’ yang sering menjadi pujaan masyarakat.

Demikianlah makna dan rahasia kandungan ‘Ilmu Hastha Brata’ yang dimiliki Prabu Rama Wijaya dan Prabu Sri Bathara Kresna yang kemudian mengantarkan kepada mereka menjadi pemimpin yang adil dan bijaksana sehingga bisa mewujudkan kemakmuran bagi rakyatnya dan hidup sejahtera.

Jika ditelaah lebih mendalam, kajian tentang ‘Ilmu Hastha Brata’ di atas sebenarnya menyangkut dua hal. Pertama, keteladanan seorang pemimpin—Prabu Rama Wijaya dan Prabu Sri Bathara Kresna—yang mampu memimpin negara dengan adil dan bijaksana sehingga namanya harum di mata rakyat.

Kedua, dengan meneladani perwatakan delapan unsur alam yang menyebabkan sang pelaku (pemimpin) secara otomatis masuk ke pendalaman wilayah spiritual-religius. Sebab, alam semesta itu sebenarnya merupakan ayat-ayat Tuhan yang tersirat, sedangkan Kitab Qur’an merupakan ayat Tuhan yang tersurat.

Keduanya tidak bertentangan satu sama lain, melainkan selaras dan harmonis. Maka, tidak mustahil bagi yang menjalankan ajaran ‘Ilmu Hastha Brata’ di atas lama-kelamaan akan menjadi insan kamil.

Orang-orang Jawa kuno dulu, jika dikontekstualkan dengan makna kepemimpinan ‘Ilmu Hastha Brata’ di atas, sebenarnya malah sudah canggih dan lebih maju dalam merumuskan soal-soal yang berkaitan dengan nilai-nilai kehidupan itu sendiri.

Misalnya, mereka mampu menggambarkan tentang nilai-nilai yang baik menyangkut berbagai hal, baik kenegaraan maupun kepemimpinan, misalnya dengan ungkapan ‘negeri panjang-punjung, gemah ripah loh jinawi’ (makmur), ‘memayu hayuning bawana’ (identik dengan rahmatan lil ‘alamin), ‘negara adil makmur karta tur raharja’ (adil makmur), ‘ratu wicaksana kang berbudi bawa leksana’ (raja yang berhati mulia dan arif bijaksana) dan sebagainya.

Bandingkan, misalnya, dengan penguasa atau pemimpin yang hidup di zaman modern dewasa ini: sudahkah mereka bersungguh-sungguh menyejahterakan kehidupan rakyat kecil?

Atau, bahkan, apakah kesungguhan para pemimpin dalam memperjuangkan rakyat kecil tadi hanya sebagai alat untuk melanggengkan kekuasaan yang telah mereka dapatkan saja?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *