Tak Banyak Disorot, Tengku Nyak Sandang bin Ibrahim Penyumbang Pesawat RI Pertama Tutup Usia - Mabur.co

Tak Banyak Disorot, Tengku Nyak Sandang bin Ibrahim Penyumbang Pesawat RI Pertama Tutup Usia

Mabur.co- Indonesia kembali kehilangan salah satu sosok yang perannya tak banyak disorot, namun meninggalkan jejak penting dalam sejarah. 

Tengku Nyak Sandang bin Ibrahim pelaku sejarah awal kemerdekaan Indonesia dari Aceh dikenal sebagai seorang donatur penyumbang dana, untuk pembelian pesawat Seulawah RI-001 yang merupakan cikal bakal maskapai penerbangan Garuda Indonesia, wafat pada Selasa (7/4/2026) dalam usia 100 tahun.

Kepergian Tengku Nyak Sandang, dibenarkan Cucu Nyak Sandang, Attahilah.

“Benar, almarhum meninggal dunia pada pukul 12.00 WIB,” katanya dilansir dari CNN Indonesia, Kamis (9/4/2026).

Ucapan duka salah satunya datang dari Gubernur Aceh Muzakir Manaf.

Ia menyampaikan duka mendalam atas kepergian Nyak Sandang.  

“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Atas nama pribadi dan Pemerintah Aceh, saya menyampaikan duka cita yang mendalam atas berpulangnya Teungku Nyak Sandang,” kata Muzakir Manaf dalam unggahannya di akun Instagramnya @muzakirmanaf1964.

Muzakir Manaf mengenang jasa Nyak Sandang sebagai donatur dalam pembelian pesawat pertama Republik Indonesia, Seulawah RI-001.

“Almarhum merupakan sosok yang sangat berjasa, khususnya melalui kontribusinya dalam pembelian pesawat pertama Republik Indonesia, Seulawah RI-001,” lanjut unggahan itu.

Nyak Sandang, lahir 4 Februari 1927, wafat di kampung halamannya di Gampong Lhuet, Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya, Provinsi Aceh.

Kisahnya bermula pada 1948, ketika Presiden Soekarno berkunjung ke Aceh untuk mengajak masyarakat berkontribusi dalam pengadaan pesawat sebagai sarana transportasi strategis bagi perjuangan diplomasi.

Nyak Sandang yang saat itu masih berusia 23 tahun tergerak untuk membantu.

Ia menyumbangkan aset berharganya berupa sebidang tanah yang memiliki sekitar 40 batang kelapa.

Tanah itu ia jual Rp100 perak. Selain itu, Nyak Sandang juga menyumbangkan emas seberat 10 gram pada 1950.

Kontribusi itu menjadi bagian dari penggalangan dana rakyat Aceh yang kemudian digunakan untuk membeli pesawat Dakota yang dikenal dengan nama Seulawah RI-001.

Sebagai bentuk pencatatan, Nyak Sandang menerima bukti berupa surat obligasi dari pemerintah Indonesia.

Dokumen itu mencatat bahwa dana yang diberikan merupakan bentuk utang pemerintah kepada rakyat Aceh.

Nyak Sandang menyimpan surat obligasi yang memuat berbagai informasi penting seperti jenis utang, jumlah dana, nama pemberi, tahun, serta tanda tangan penerima selama puluhan tahun.

Keberadaan surat obligasi itu mulai diketahui publik pada tahun 2018. Sejak saat itu, nama Nyak Sandang semakin dikenal luas.

Setelah kisahnya terungkap, Presiden ke-7 Joko Widodo menemui Nyak Sandang dan mengabulkan permintaannya yaitu operasi katarak, umrah, dan membangun masjid di kampung halamannya.

Masjid itu kini sudah berdiri kokoh tak jauh dari rumah Nyak Sandang.

Selain menyumbang, Nyak Sandang juga ikut berjuang melawan penjajah. Ia bertugas sebagai kepala pasukan pengintai.

Jika kapal Belanda muncul, Nyak Sandang segera mengabari pasukan lain yang bertahan di atas Puncak Gureutee di Aceh Jaya, Aceh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *