STY Jadi Penasihat Teknis Timnas Mini Soccer Indonesia, Terganjal Masalah Komunikasi Lagi? - Mabur.co

STY Jadi Penasihat Teknis Timnas Mini Soccer Indonesia, Terganjal Masalah Komunikasi Lagi?

Mabur.co – Meskipun tidak dikonfirmasi secara resmi, namun banyak pihak menyebutkan bahwa mantan pelatih timnas sepakbola Indonesia, Shin Tae-Yong (STY) dipecat oleh PSSI pada awal tahun lalu karena masalah komunikasi.

Hal ini disebabkan karena STY hanya fasih berbicara dengan bahasa Korea, yang merupakan negara asalnya. Sementara untuk berbicara bahasa Inggris (bahasa internasional) pun, STY masih belum begitu fasih, kecuali untuk beberapa kata tertentu saja.

Padahal dengan banyaknya “antek-antek asing” yang berdatangan dan memperkuat kedalaman skuad timnas Garuda, kecepatan komunikasi menjadi salah satu faktor kunci, yang dapat menentukan kesuksesan sebuah tim meraih kemenangan, dan mencapai target yang diinginkan.

Pada akhirnya, timnas sepakbola Indonesia pun gagal melaju ke Piala Dunia 2026. Sehingga harus menunggu (untuk berpartisipasi) setidaknya empat tahun lagi (Piala Dunia 2030).

Satu setengah tahun sejak dipecat PSSI, STY kembali ke Indonesia dengan tugas barunya, yakni sebagai penasihat teknis untuk tim nasional mini soccer atau Football 7, yang bisa dibilang sebagai cabang olahraga baru, meskipun masih berhubungan dengan sepak bola, namun dengan teknis permainan yang sedikit berbeda.

Meskipun dalam satu setengah tahun ini STY kerap mondar-mandir Indonesia guna menghadiri sejumlah acara sekaligus liburan, namun rentang waktu tersebut tentunya masih belum cukup, untuk membuat STY fasih berbicara dengan bahasa Inggris, apalagi bahasa Indonesia.

Sehingga mau tidak mau, dalam setiap kunjungannya, STY masih harus mengandalkan bantuan penerjemah (Jeong Seok-Seo/Jeje) untuk membantunya berkomunikasi dengan orang-orang yang ditemuinya.

Lalu dengan jabatan barunya sebagai penasihat teknis di timnas mini soccer Indonesia, apakah masalah serupa (komunikasi) ini masih akan kembali terjadi?

Tentunya akan sangat lucu, jika posisi STY tiba-tiba kembali diberhentikan begitu saja oleh Indonesia Football 7 (PSSI-nya cabang mini soccer di Indonesia) akibat terganjal masalah komunikasi, seperti yang selama ini dituduhkan oleh para pengamat sepakbola konvensional, atas apa yang dialaminya pada awal tahun 2025 lalu.

Dengan melihat fakta bahwa pemain-pemain di timnas football 7 Indonesia semuanya merupakan pemain lokal, dan tidak ada satupun “antek-antek asing” di dalamnya, serta cabang ini masih tergolong baru di dunia internasional, maka peluang STY untuk bisa “langgeng” dalam jabatan barunya ini seharusnya menjadi lebih besar.

Karena meskipun sama-sama cabang bola sepak, namun football 7 atau mini soccer belumlah sementereng cabang sepakbola konvensional pada umumnya. Peminatnya pun bisa dibilang belumlah terlalu banyak, sehingga butuh sosialisasi lebih lanjut mengenai cabang olahraga yang satu ini.

Mungkin itulah alasannya, kenapa federasi Indonesia Football 7 belum berminat merekrut “antek-antek asing” dari Belanda maupun belahan eropa lainnya, agar mereka bisa memaksimalkan potensi pemain-pemain lokal kelahiran Indonesia asli, dan melihat bagaimana persaingan di cabang ini dalam beberapa tahun mendatang.

Sekaligus melihat bagaimana ekspektasi publik terhadap cabang yang satu ini.

Jika sudah begitu, maka sudah seharusnya STY benar-benar mampu “diamankan” di Indonesia dalam waktu yang lebih lama, bahkan kalau perlu bisa lebih dari lima tahun.

Sehingga pengembangan pemain muda potensial (yang bukan warisan dari negara asing) bisa benar-benar dimaksimalkan oleh STY beserta jajarannya, agar mampu menghasilkan prestasi terbaik bagi Indonesia di kancah internasional.

Mirip seperti yang dilakukan oleh timnas futsal, yang kini menjadi idola baru tontonan masyarakat Indonesia. Mereka nampaknya sudah bosan dengan penampilan timnas sepakbola yang begitu-begitu saja, sekalipun telah merekrut puluhan “antek-antek asing” dari berbagai penjuru eropa. Namun nyatanya, selain gagal meloloskan Indonesia ke ajang Piala Dunia, satu per satu dari mereka justru “pulang kampung” ke negara leluhurnya, dan bermain di kompetisi Liga Indonesia.

Sebaliknya, cabang futsal bisa terus berprestasi di kancah Asia, tanpa bantuan dari “antek-antek asing” sama sekali, kecuali dari pelatihnya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *