Mabur.co – Tahukah kamu di mana letak museum Islam terbesar di dunia? Jawabannya ada Tashkent, ibukota Uzbekistan.
Museum itu adalah Center for Islamic Civilization atau Museum Pusat Peradaban Islam yang baru diresmikan dan dibuka 17 Maret 2026 lalu.
Terletak di kawasan kota tua Distrik Olmazor, kompleks Hazrati Imam Complex, Museum Center for Islamic Civilization ini merupakan kompleks pusat peradaban Islam terbesar yang pernah dibangun.
Kompleks ini bahkan telah memperoleh pengakuan dari Guinness World Records sebagai museum terbesar di dunia yang didedikasikan untuk peradaban Islam.
Bukan hanya sekadar museum, CISC ini juga dirancang sebagai platform yang menggabungkan penelitian, warisan budaya, dan teknologi modern, yang bertujuan untuk menampilkan sejarah dan kontribusi peradaban Islam.
Dikutip Kalimantanpost, Rabu (6/5/2026) museum ini berdiri megah tiga lantai dengan panjang bangunan 161 meter dan lebar 118 meter, dengan total luas mencapai 42.000 meter persegi.
Bangunan CISC tidak hanya megah secara fisik, tetapi juga sarat makna filosofis. Arsitekturnya merupakan perpaduan harmonis antara gaya klasik era Kekaisaran Timurid dan teknologi modern.
Empat gerbang utama melambangkan persatuan wilayah Uzbekistan, masing-masing ditopang oleh pilar setinggi 34 meter yang terinspirasi dari gerbang madrasah Mirzo Ulugbek Madrasah di Samarkand.
Di pintu masuk utama, terpampang kaligrafi ayat pertama Alquran, “Iqra” (Bacalah), sebagai simbol pentingnya ilmu pengetahuan dalam peradaban Islam.
Memasuki museum, pengunjung seolah diajak menjelajahi perjalanan panjang peradaban Islam selama lebih dari 3.000 tahun.
Konsep yang diusung tidak sekadar menampilkan artefak seperti museum konvensional, tetapi menghadirkan pengalaman interaktif berbasis teknologi.

Deputy Director CISC, Izzatbek Ibragimov, bersama General Director UzTourist Muhammad, menjelaskan bahwa museum ini dirancang sebagai ruang dialog antara masa lalu dan masa depan.
Pengunjung bahkan dapat berinteraksi langsung dengan sejarah melalui teknologi realitas virtual (VR), augmented reality (AR), dan kecerdasan buatan (AI).
Di “Hall of Honor”, tokoh-tokoh besar seperti Ibnu Sina, Imam Bukhari, dan Al-Khawarizmi dihadirkan dalam bentuk avatar digital interaktif. Pengunjung bahkan dapat “berdialog” langsung dengan figur-figur legendaris tersebut melalui panel sentuh.
Selain itu, tersedia juga “kapsul waktu” interaktif serta museum anak yang dirancang khusus untuk generasi muda, memastikan transfer pengetahuan lintas generasi berlangsung secara menarik.
Proses pembangunan kompleks ini sendiri memakan waktu hingga delapan tahun sejak digagas pada 2017, yakni dengan biaya pembangunan mencapai sekitar 200 juta dolar AS atau setara Rp3,4 triliun.
Salah satu bagian paling memukau adalah “Quran Hall” atau Aula Alquran yang disebut sebagai pusat spiritual kompleks ini. Ruangan ini berada di bawah kubah setinggi 65 meter yang dirancang untuk memfokuskan cahaya alami ke pusat ruangan, melambangkan cahaya ilahi.
Langit-langit aula dihiasi hologram peta bintang langit Tashkent, dipadukan dengan 90 kristal Swarovski dan lebih dari 650 titik lampu yang menciptakan suasana magis.
Di tengah ruangan, tersimpan manuskrip bersejarah yakni Mushaf Utsman bin Affan dari abad ke-7. Naskah ini diyakini sebagai salah satu Alquran tertua di dunia dan telah diakui oleh UNESCO.
Di sekelilingnya, dipamerkan 114 manuskrip Alquran langka dari berbagai era dinasti Islam, merepresentasikan jumlah surat dalam Alquran.
Pada waktu tertentu, aula ini menampilkan pertunjukan cahaya hologram yang melantunkan Surah Al-‘Alaq, menciptakan pengalaman spiritual yang membawa pengunjung seolah kembali ke masa turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad.



